Rabu, 11 Desember 2013

Pengalaman Difitnah Beritasatu.com Jadi Pelajaran

PENGALAMAN  lain yang cukup mengesankan dan jadi pelajaran adalah ketika saya difitnah melalui pemuatan tulisan seolah -olah hasil wawancara oleh media online Beritasatu.com,  anak perusahaan First Media Grup milik taipan James Riady. Begini kisahnya :

Pada tanggal 14 Nopember 2012, sekitar pukul 16.30 Wib saya yang sedang berdiskusi tentang Otoritas Jasa Keuangan  dengan teman - teman di Hotel JW Marriot Mega Kuningan Jakarta, tiba - tiba ditelepon oleh seorang teman. “Den, coba ceh deh Beritasatu.com. Disana ada tulisan tentangmu. Kok aneh banget isinya?”  Mendengar informasi teman itu saya pun mencari tahu berita apa tentang diri saya yang dimuat oleh Beritasatu.com itu. Ternyata adalah berita mengenai hasil pembicaraan saya dengan seorang staf Beritasatu.com sehari sebelumnya yang sebenarnya bukanlah sebuah wawancara, tidak ada izin dari saya untuk pemuatannya di Beritasatu.com,  substansi berita  tersebut jauh menyimpang dari apa yang kami bicarakan dan sebagian besar adalah fitnah terhadap diri saya dan teman - teman saya.

Pemuatan berita fitnah di media online Beritasatu.com itu bermula dari telepon seseorang yang selama ini saya anggap sebagai teman baik, ternyata kemudian terbukti adalah seorang pengkhianat, bermaksud mencelakakan, menjadi kaki tangan dalam upaya kriminalisasi dan menghancurkan saya. Orang itu bernama Adam Wahab, anak Medan alumnus Institute Teknologi Bandung (ITB).

Adam Wahab ini siang hari pada tanggal 13 Nopember 2012 menelepon saya untuk mengajak bertemu. Ada yang sangat penting katanya. Kami menyepakati untuk bertemu selepas magrib di Grand Hyatt Hotel / Plaza Indonesia. Namun karena acara dengan Dubes Malaysia di Hotel Shangri La  belum selesai selepas magrib dan kebetulan ada teman karib saya yang lanjut mengajak ngobrol di Shangri La, saya minta maaf kepada Adam Wahab karena tidak bisa penuhi janji ketemu malam itu. Namun ternyata Adam bersikeras ingin bertemu dan mengatakan dia segera menyusul saya ke Shangri La Hotel.

Sekitar satu jam kemudian Adam Wahab tiba di Shangri La Hotel. Dia datang berdua dengan temannya yang tidak saya kenal. Lalu mereka bergabung dengan kami di sebuah cafe di hotel tersebut. Sepintas saya memang sempat mencurigai tingkah lalu Adam Ahab yang agak aneh saat itu. Dia terlalu ngotot menjelaskan kepada temannya bahwa saya dan teman saya sebagai admin akun twitter Triomacan2000. Meski kami sudah menegaskan bahwa akun tersebut sudah lama tidak kami kelola, Adam tetap mau mengesankan kepada temannya bahwa kami masih tetap sebagai admin. Saya bertanya - tanya dalam hati, apa maksud Adam Wahab yang sebenarnya ? Di saat pembicaraan itulah saya menerima SMS dari nomor yang tidak dikenal sebelumnya. Pengirimnya mengaku bernama Liberty, staf Beritasatu.com yang katanya menghubungi saya atas perintah Bapak Peter F. Gontha CEO First Media Grup yang memang saya kenal baik dan hormati selama ini.

SMS dari Liberty staf Beritasatu.com itu intinya minta kesediaan saya untuk dihubungi melalui telepon kantor. Dengan prasangka baik karena terkait nama Peter F Gontha, saya sama sekali tidak menduga ada maksud jahat dibalik permintaan tersebut. Saya menyetujui permintaan Liberty itu. Tak lama kemudian, handphone saya berdering, dihubungi Liberty dari nomor telepon kantor Beritasatu.com. Pembicaraan awalnya yang ringan - ringan saja. Lalu mulai dengan menggiring saya dengan meminta konfirmasi bahwa selama ini admin triomacan2000 itu adalah saya dan teman - teman yang dia sebutkan namanya. Tentu saja pernyataan (bukan pertanyaan) dari Liberty itu saya bantah dan saya menjelaskan dengan informasi dan fakta sebenarnya. Tak lama kemudian, pembicaraan kami selesai dan dia tutup dengan kata penutup yang sangat manis dan terima kasih.

Berdasarkan hal itulah saya menjadi kaget ketika membaca berita yang dimuat di media online Beritasatu.com pada sore hari tanggal 14 Nopember 2012 itu. Saya menilai banyak pelanggaran hukum dan etika yang dilakukan oleh Liberty dan Ulin Yusron yang mencantumkan namanya di bawah berita tentang saya tersebut.

Pelanggaran hukum dan etika jurnalistik yang dilakukan Liberty dan Ulin Yusron itu antara lain : pemuatan hasil pembicaraan saya dengan Liberty sehari sebelumnya yang ilegal alias tanpa izin dan pemberitahuan bahwa pembicaraan kami tersebut dimuat di Beritasatu.com dengan kemasan seolah - olah itu adalah wawancara. Beritasatu.com telah menipu dan melanggar hukum.

Pelanggaran kedua adalah materi atau isi berita terkait diri saya yang dimuat Beritasatu.com sebagian besar berbentuk fitnah, pelintiran dan opini negatif yang keliru yang ditujukan kepada diri saya untuk maksud tertentu yang pasti tidak baik. Fitnah yang paling fatal adalah tulisan Liberty / Ulin Yusron yang menuduh kami mengajukan diri ke pimpinan Beritasatu.com untuk memasok informasi tentang korupsi pejabat - pejabat tertentu dengan minta imbalan sebesar Rp. 1 milyar. Tuduhan Liberty dan Ulin Yusron itu ngawur dan mempermalukan bosnya sendiri, Peter F Gontha, CEO First Media yang sebelumnya mengundang kami ke kantornya untuk diskusi dalam rangka membahas  gagasan beliau (Peter F Gontha) memperkaya dan memperkuat content berita/siaran First Media Grup dengan content/berita yang bersifat investigatif khususnya terkait isu - isu tertentu yang menarik minat publik untuk ditayangkan. Pertemuan dan diskusi kami tersebut hanya pada Peter F Gontha seorang. Setelah masa sepertiga terakhir, baru kemudian bergabung Don Bosco, Direktur Televisi Beritasatu. Tidak ada manusia yang bernama Ulin Yusron yang kelihatan hidungnya dalam diskusi kami di kantor pusat First Media Grup di Jalan Gatot Subroto, Jakata tersebut.

Pelanggaran hukum dan etika jurnalistik yang dilakukan oleh Ulin Yusron, pemimpin redaksi Beritasatu.com saat itu dan dibantu oleh cecunguknya Adam Wahab cs sangat jelas maksud dan tujuannnya. Motifnya hanya sekedar mendapatkan rupiah yang tidak seberapa dengan tanpa malu dan ragu rela menghamba dan melacurkan dirinya kepada musuh - musuh kami yang pastilah mereka adalah para koruptor, mafia dan munafikun.

Bagaimana rangkaian fakta mengenai konspirasi Adam Wahab, Ulin Yusron, Liberty cs ini dalam rangka menghancurkan kami untuk menghentikan upaya kami membongkar kebusukan para pemimpin negeri ini, nanti akan saya tuangkan dalam tulisan selanjutnya. Sementara ini cukup sekian dulu…..(bersambung)

Berbagi Pengalaman Difitnah Media

Menyambung tulisan sebelumnya  tentang pengalaman berharga difitnah dan dicurangi oleh media online Beritasatu.com, saya lanjutkan kisahnya sebagai berikut :

Setelah memuat sebagian isi pembicaraan saya dengan Liberty staf Beritasatu.com tanpa izin dan menjadikannya seolah - olah hasil wawancara, Beritasatu.com tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga menurunkan berita pelintiran dan tendensius, diantaranya dengan menayangkan kartu nama saya yang sebelumnya pernah saya berikan kepada Peter F Gontha dan Don Bosco ketika pertama sekali bertemu mereka di kantor First Media Grup. Beritasatu.com menulis bahwa mereka sudah mendatangi kantor PT. Lumbung Makmur dan mendapatkan kantor tersebut sudah tutup dengan meninggalkan utang sewa. Alangkah lucunya tulisan Beritasatu.com tersebut. Karena kemalasannya mereka tidak mencari tahu informasi dan fakta sebenarnya.

Perusahaan dimana saya pernah menjabat sebagai Direktur Operasional tersebut adalah anak perusahaan grup konglomerat dengan omset triliunan per tahun dan laba ratusan milyar. Kantor yang mereka sebutkan sudah tutup itu pun sebenarnya milik perusahaan, bukan sewa.

Beritasatu.com menurunkan banyak tulisan tentang saya. Namun celakanya tulisan yang dimuat 90 % keliru dan memang dimaksudkan untuk membunuh karakter saya. Tujuan jahat Beritasatu.com itu menjadi dasar saya menyampaikan protes kepada Peter F Gontha dan Don Bosco sebagai pemimpin First Media Grup yang membawahi Beritasatu.com. Melalui akunnya di twitter, Peter F Gontha mengaku bahwa informasi atau tulisan yang dimuat Beritasatu.com tersebut keliru. Namun, pada saat itu saya tidak mendengar sanksi apa yang dijatuhkan beliau terhadap Ulin Yusron dan Liberty, pemimpin redaksi  dan staf Beritasatu.com atas tulisan - tulisan yang mereka muat di Beritasatu.com yang nyata - nyata telah terbukti melanggar hukum dan etika. Belakangan saya ketahui, Ulin Yusron disebutkan sudah keluar dari Beritasatu.com. Apakah dia dipecat atau mengundurkan diri akibat berita fitnah tersebut, saya  tidak tahu persis dan memang bukan urusan saya untuk mengetahuinya.

Demikian juga ketika seorang perwira polisi dari polda yang memeriksa Ulin Yusron cs menanyakan apakah saya akan melanjutkan proses hukum terhadap Ulin, saya jawab tidak. Di samping saya tidak punya waktu untuk mendorong proses hukum sampai Ulin dijebloskan ke penjara, saya juga memahami bahwa apa yang dilakukannya itu atas dasar pesanan atau bayaran seseorang / pihak tertentu. Menghadapi hal - hal seperti ini sudah menjadi risiko hidup saya sejak dua puluh tahun  yang lalu.

Pengalaman dengan fitnah media pasti juga  dialami  oleh banyak orang. Media massa kita, sejak reformasi bergulir kian kebablasan, tidak objektif, arogan dan zalim. Media massa yang semula diharapkan sebagai sarana percerdasan dan pencerahan anak bangsa, sebagian besar telah menjadi monster, juru fitnah bayaran dan pembuat opini sesat. Sesuaka hati mereka saja. Undang - undang pers yang sangat melimdungi kebebasan pers disalahgunakan oleh awak media dalam menulis dan memuat berita.

Fenomena media bayaran, pembentuk opini palsu  atau juru fitnah ini juga terjadi pada media besar seperti Tempo yang terbukti beritanya sering ngawur, tendensius dan ditujukan untuk membunuh karakter tokoh tertentu atas dasar bayaran atau motif politik. Sungguh disayangkan.

Contoh nyata pembunuhan karakter tokoh tertentu oleh media massa terutama majalah Tempo, televisi TV One dan Metro TV adalah terhadap Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat. Tidak terhingga banyaknya informasi dan berita fitnah yang mereka tujukan ke Anas seolah - olah dia adalah raja mafia koruptor Indonesia. Setahun lebih media -media dengan bayaran sangat mahal tersebut berlomba - lomba berbuat dosa dengan memyiarkan berita fitnah. Meski akhirnya Anas Urbaningrum dijadikan tersangka oleh KPK, namun bagi orang yang menggunakan akal sehatnya, jelas sekali terlihat bahwa penetapan tersangka pada Anas itu hanyalah kriminalisasi KPK terhadap Anas. Bagaimana mungkin seseorang yang belum menjabat sebagai pejabat negara bisa dijerat delik gratifikasi atas sebuah mobil yang diterima  (kemudian terbukti telah dibelinya secara mencicil), dapat ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Aneh bin ajaib. Zalim bin keji. Semoga Allah mengampuni orang - orang yang laknat itu. Dibukakan mata, akal dan hati nuraninya.

Bilamana ada pihak yang dirugikan oleh suatu pemberitaan media, mekanisme yang ditempuh paling banter dengan mengirimkan bantahan, koreksi atau klarifikasi untuk dimuat di kolom surat pembaca yang jarang dibaca itu. Sedangkan nama baik pihak yang dirugikan sudah terjadi. Apa lah arti sebuah surat pembaca atau sanggahan yang dimuat media sebagai mekanisme hak jawabnya jika hal tersebut tidak memberikan pelajaran atau sanksi terhadap media dan wartawannya yang sudah melanggar hukum dan etika. Apalagi redaksi dan wartawan tersebut dengan mudah berkelit dari sanksi pidana atas kejahatan yang dilakukannya dengan berlindung di balik UU Pers yang salah kaprah itu.

Era reformasi tidak menyababkan media massa kita serta merta menjadi dewasa dan bertanggung jawab. Malah lebih banyak sebaliknya. Hanya dengan bayaran puluhan atau ratusan juta, sebuah koran atau majalah terkemuka dengan mudah membuat serial berita palsu untuk membangun atau membentuk opini publik palsu. Media seperti inilah yang sering dijuluki sebagai media pelacur. Media tak bermoral. Hanya pentingkan aspek komersil untuk keuntungan perusahaan dan pribadi awak medianya. Hati -hatilah dengan media massa seperti ini karena sesungguhnya media seperti ini sangat merusak moral bangsa.

Bagaimana cara mengatasi media massa yang brengsek seperti ini ?  Sulit menjawabnya. Tapi sebagian orang terpaksa menempuh cara main hakim sendiri dengan menyerbu kantor media tersebut dan menjadikanya kacau balau porak poranda. Perbuatan main hakim sendiri yang tentu saja tidak dapat dibenarkan dan melanggar hukum. Ke depan mari kita dorong revisi UU Pers Nasional yang dapat mendorong terwujudnya pers nasional Indonesia yang bebas, profesional, independen, cerdas, cermat, beretika dan bertanggung jawab. Semoga. Aamiin. (Raden Nuh)

Indonesia Belum Merdeka Karena Belum Ingin Merdeka

Merdeka itu bebas. Kemerdekaan itu adalah kebebasan. Kebebasan menentukan nasib sendiri, kebebasan nenentukan cara, langkah, sikap,  tindakan, arah dan tujuan sendiri.  Kemerdekaan berarti tidak terkungkung dalam suatu ruangan atau keadaan. Merdeka adalah tidak dalam keadaan tertekan atau ditekan, terkooptasi atau dikooptasi oleh kekuatan apapun dan dari mana pun. Merdeka adalah merdeka.

Apakah kita telah merdeka ? Sebagai negara, Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945 M, atau 9 Ramadan 1364 H meski Belanda dan sebagian besar negara barat lain akui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Kemerdekaan Indonesia adalah unik. Mungkin satu - satunya negara di dunia yang menyatakan dirinya secara resmi sebagai negara merdeka ketika negara kolonialis yang berkuasa tidak (belum) bersedia memberikan kemerdekaan itu kepada daerah jajahannya. Indonesia merdeka karena Indonesia ingin merdeka. Bukan karena permintaan negara lain, bukan pula karena dorongan, desakan atau tekanan dari negara atau kekuataan asing lain. Bahkan negara seperti Singapura pun tak punya hari kemerdekaan (independence day), meraka hanya punya hari nasional (nasional day). Namun, sebagai bangsa,  Singapura telah memerdekaan jiwa, raga dan pikirannya !

Indonesia merdeka karena Indonesia ingin merdeka.

Sebagai negara, Indonesia memang telah merdeka sejak 68 tahun yang lalu. Namun, sebagai bangsa atau rakyat, Indonesia ternyata belumlah merdeka sebagaimana pekik merdeka yang telah bergema lama kemana - mana. Sebagai negara, Indonesia punya keinginan, kemauan, tekad dan  kesadaran untuk merdeka. Tetapi sebagai bangsa, Indonesia hingga kini masih terkukung penjajahan. Sebagai bangsa, rakyat Indonesia masih terjajah dalam menentukan sikap dan cara berfikirnya terutama dalam menentukan langkah dan tindakan bagaimana seharusnya mengisi kemerdekaan dan mencapai tujuan kemerdekaan.

Indonesia belum merdeka karena Indonesia belum ingin merdeka.

Bangsa dan rakyat Indonesia hinggi kini belum mampu mewujudkan satu pemerintahan yang kuat, bersih, profesional dan berdedikasi terhadap pencapaian cita - cita kemerdekaan. Cita - cita ketika negara Indonesia ini untuk pertama sekali didirikan. Indonesia selama 68 tahun belum mampu memberikan perlindungan pada seluruh rakyat Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia. Jangan perlindungan terhadap lebih 10 juta jiwa rakyat Indonesia yang hidup di luar negeri (7 juta diantaranya adalah TKI), perlindungan terhadap rakyat di tanah air sendiri pun, negara cq. Pemerintah belum mampu. Apalagi perlindungan terhadap segenap tumpah darah Indonesia. Masih jauh…masih dalam bentuk angan - angan. Bak pungguk merindukan bulan.

Tanah air kita dari Sabang hingga Merauke, dari Talaud hingga Pulau Rote, setiap saat menjadi saksi pelanggaran kedaulatan dari pihak asing. Nelayan - nelayan asing dengan bebasnya mencuri kekayaan laut Indonesia. Kapal - kapal perang asing termasuk kapal selam, kapan saja bebas keluar masuk hilir mudik di perairan laut Indonesia. TNI kita tidak mampu halau atau atasi mereka. Tress passing dan illegal fishing  sudah menjadi kenyataan pahit sehari- hari.

Wilayah Udara Indonesia sama saja. Penerbangan sipil dan militer asing leluasa langgar kedaulatan negara kita. Radar asing lebih kuat dan berkuasa dibandingkan milik kita. Frekwensi siaran udara? Lebih parah lagi. Mayoritas dikuasai asing dan swasta dengan pengelolaan yang tak jelas juntrungannya.

Bagaimana dengan kedaulatan di darat ? Kita ucapkan selamat tinggal, selamat berpisah pada Sipadan dan Ligitan. Kita bengong saja menyaksikan tapal batas negara RI yang semakin berkurang. Kita tidak mampu menjaga kemerdekaan dan kedaualatan.

Indonesia belum merdeka karena Indonesia belum ingin merdeka.

Kemerdekaan dan kedaulatan ideologi, ekonomi, politik, hankam dan sosial budaya Indonesia masih pada taraf cita - cita. Indonesia belum merdeka pada semua sektor kehidupan bangsa itu. Ideologi Pancasila yang kita cita - citanya kini terbaring kaku digantikan ideologi hedonis narsis individualis pragmatis. Kemerdekaan ekonomi kerakyatan Indonesia berbasis koperasi dan gotong royong hanya tinggal mimpi belaka ketika ekonomi liberal kapitalis menerjang masuk menjajah segenap rakyat dan bangsa Indonesia.

Demokrasi Pancasila yang kita idam-idamkan terwujud ketika era reformasi tiba eh malah kian hancur dihamtam demokrasi liberal paham barat yang berazaskan uang dan tirani opini bentukan penguasa media atau orang - orang kaya yang mampu mengendalikan opini dan media. Pertahanan dan keamanan negara begitu rapuhnya sehingga kekuataan asing enggan kotori tangan mereka dengan darah dan air mata. Menghancurkan Indonesia cukup dengan kekuatan informasi, opini dan ekonomi yang mereka kendalikan sepenuhnya.

Indonesia belum merdeka karena Indonesia belum ingin merdeka.

Kemerdekaan dan kedaulatan di sektor sosial budaya ? Apa itu ? Masih adakah?  Nilai - nilai luhur budaya yang bersendikan nilai - nilai agama kian hari makin menghilang di depan mata dan mulai menjadi bangsa. Sekulerisasi kehidupan berbangsa dan bernegara kian gencar. Nilai - nilai agama dan budaya kian luntur dan hanya jadi seremonial belaka. Bangsa ini semakin kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Konsumerisme menjadi gaya hidup di tengah - tengah kegagalan pemerintah memproduksi sendiri sebagian besar kebutuhan konsumsi rakyatnya. Lihatlah di sekililing kita dan setiap tahap ritual kehidupan kita sebagai manusia Indonesia : bangun tidur, mandi, sarapan pagi, berangkat kerja / sekolah, bekerja di kantor / belajar di sekolah /kampus, makan siang,  pulang kerja dan kembali tidur. Lebih 90% dari aktivitas yang kita lakukan dalam mengisi dan menjalani hidup tersebut kita menggunakan atau konsumsi produk - produk asing. Sebut saja : sikat gigi, odol, sabun mandi, air minum, beras, garam, ikan, motor / mobil, bensin / solar , pulpen, spidol, buku, dan seterusnya…semuanya sebagian besar adalah produk impor ! Bahkan selimut yang kita pakai tidur pun, sebagian besar adalah produk impor China atau India !

Kita belum merdeka karena kita belum ingin merdeka !

Soedjatmoko dalam bukunya “Etika Pembebasan” mengajak kita semua untuk memerdekakan akal dan pikiran kita. Sesungguhnya yang jauh lebih sulit bukanlah membebaskan diri dari penjajahan pihak luar atau asing, melainkan membebaskan diri dari penjara pikiran dan perasaan kita sendiri sebagai manusia. Jauh lebih sulit bagi kita manusia untuk memerdekakan diri dari penjajahan pikiran dan perasaan kita sendiri.

Apakah kita sudah merdeka ?

Apakah kita sudah memerdekakan diri kita sendiri ? Memerdekakan pikiran dan jiwa kita sendiri ? Apakah kita sudah melepaskan diri dari tekanan opini yang sebagian besar adalah sesat dan menyesatkan ? Apakah kita sudah mencari kebenaran yang sesungguhnya ? Apakah kita sudah memerdekakan diri dari jiwa yang tertekan dan terjajah ? Apakah jiwa kita sudah didominasi dan dikendalikan oleh iman? Bukan tergerak oleh hawa nafsu belaka atau bisikan setan ?

Apakah kita sudah merdeka ?

Atau kita belum merdeka karena kita memang tidak ingin merdeka ?

Marilah kita renungkan makna hari kemerdekaan ini dengan diawali dengan pekik keras : MERDEKA !!!

Selamat Hari Kemerdekaan Negeri Indonesiaku…Dirgahayu Indonesiaku …sekali lagi MERDEKA !!!

Blok Migas: Raksasa Bodoh Itu Bernama Pemerintah Indonesia?

Melalui seorang teman lama, saya dan teman - teman dipertemukan dengan para aktivis perminyakan dan gas (migas)  seminggu lalu. Pada awalnya pertemuan yang diadakan di sebuah hotel di kawasan Kemang, Jakarta Selatan itu, saya fikir untuk membahas dan menyusun strategi penolakan terhadap rencana pemerintah RI yang akan meneruskan kontrak pengelolaan Blok Mahakam kepada Total E & P (Perancis) dan Inpex Coorporation (Jepang).  Ternyata dugaan saya keliru.
“Blok Mahakam nanti saja Bang”, ujar teman saya aktivis migas alumnus ITB yang pernah bekerja di VICO (Virginia Indonesia Company) salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia. “Blok Mahakam masih lama, 2017 baru berakhir. Pemerintah rencananya baru akan putuskan setelah pemilu 2014 nanti. Kita bahas Blok Siak dan Blok Kampar saja. Blok Siak akan berakhir pada Nopember 2013 atau dua bulan lagi. Kontraktor Blok Siak yang sekarang mengelola blok ini disebut - sebut sudah memberikan uang suap USD. 20 juta (Rp. 200 milyar) kepada salah satu pasangan cagub dan cawagub yang diprediksi akan keluar sebagai pemenang Pilkada Gubernur Riau, 4 September 2013 ini. Urgent banget Bang !”, jelas teman saya itu berapi - api.
Lalu kami segera tenggelam dalam diskusi intens membahas rencana kami mendesak pemerintah Indonesia untuk memutuskan pengelolaan Blok Siak, Riau ini kepada Pertamina, BUMN migas kita. Pengalaman mengajarkan kita, bahwa pemerintah Indonesia terlalu mudah memperpanjang kontrak migas kepada kontraktor asing. Pertamina selalu dianaktirikan, kepentingan bangsa dan negara diabaikan.
Khusus untuk pengeloaan Blok Siak yang beberapa hari lagi akan berakhir kontraknya antara pemerintah Indonesia dengan PT. Chevron Pasific Indonesia (CPI) setelah berjalan 21 tahun sejak 1991.  Sekitar 2 bulan lalu, Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) menyatakan CPI berpeluang besar kembali mengelola Blok Siak, Riau tersebut. Rencana SKK Migas itu langsung ditentang keras oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menyebutnya sebagai keputusan yang keliru besar. Jika Blok Migas Siak ini kembali kita serahkan pengelolaannya kepada CPI, kapan Pertamina bisa maju berkembang mengejar ketertinggalannya dari perusahaan / BUMN asing. Pertamina sebagai BUMN Migas Indonesia saat ini hanya mampu bukukan laba Rp. 25 triliun, bandingkan dengan Petronas Malaysia yang mencatat laba sekitar Rp. 160 triliun pada 2012 lalu.
Kengototan pihak CPI meraih kembali hak pengelolaan Blok Siak tidak semata - mata hanya ingin mempertahankan keutungan besarnya di blok migas yang berproduksi 1.600 - 2.000 barrel per hari, melainkan juga karena terkait erat dengan pengelolaan Blok Rokan oleh CPI melalui anak perusahaannya Chevron Rokan,  secara keseluruhan ditargetkan dapat produksi minyak 328.000 barrel per hari. Pengalaman sebelumnya ketika masih bernama PT. Caltex, menunjukan keterkaitan antar blok migas satu sama lainnya terhadap produksi minyak di blok migas yang dikelola CPI.
Namun, apapun alasannya, Pemerintah Indonesia cq. Menteri ESDM cq. SKK Migas tidak boleh begitu saja melepaskan pengelolaan Blok Migas Siak kembali kepada CPI. Pemerintah harus tegas dan rakyat harus mengawasi dan menjaga keputusan pemerintah Indonesia terkait Blok Siak ini. Apalagi di tengah - tengah beredarnya informasi bahwa CPI akan gunakan segala cara agar dapat kembali mengelola Blok Siak. Itu artinya, uang suap jutaan bahkan puluhan juta USD kepada oknum - oknum pejabat tinggi RI sangat mungkin digunakan sebagai pendorong keputusan pemerintah Indonesia untuk memperpanjang kontrak Blok Siak kepada CPI.
Point terpenting dalam rapat kami minggu lalu itu adalah bahwa rakyat Indonesia harus disadarkan realitas sikap mental pejabat - pejabat tinggi pemerintah RI, cenderung menyerahkan kembali pengelolaan blok - blok migas yang telah berakhir kontraknya kepada kontraktor asing, seeprti Blok Siak, Blok  Mahakam dan lain - lain. Sementara itu, untuk Blok Kampar, Riau yang berproduksi 1.400 - 1.600 bpd sudah berakhir kontraknya pada Juli 2013 lalu. Belum diketahui apakah tetap dikelola Medco E & P atau diserahkan kepada Pertamina atau malah diberikan ke kontraktor asing. Jika mayoritas blok migas Indonesia diserahkan hak pengelolaanya kepada asing, itu sama saja dengan mengkhianati tujuan kemerdekaan Indonesia, melanggar konstitusi (UUD 45) khususnya pasal 33, mengerdilkan Pertamina sebagai BUMN, mengabaikan pencapaian ketahanan energi dan kedaulatan energi serta menyakiti hati rakyat Indonesia.
Perlu diwaspadai segala macam bentuk rekayasa alasan dan opini yang dikembangkan kontraktor asing dan pejabat - pejabat Indonesia kolaboratornya untuk mengkondisikan blok - blok migas itu pengelolaannya jatuh kepada asing. Kita harus lawan !
Kita harus lawan sekuat tenaga. Satukan barisan cegah Ibu Pertiwi dan sumber daya alam kita diobral dengan sangat murahnya ! Kita harus lawan sampai titik darah penghabisan …
Kita harus rebut pengelolaan blok - blok migas yang kita miliki. Jangan sampai bangsa ini terus diperbodoh dan menjadi negara raksasa tidur yang terus tidur, raksasa bodoh yang terus diperbodoh, hanya karena ulah segelintir pejabat, oknum pemerintah, politisi dan elit negeri ini yang rela menjual jiwa raganya menjadi pengkhianat bangsa hanya demi uang suap jutaan dollar yang tidak akan pernah mereka bawa mati.

Suka Duka Jadi Pencetus @Triomacan2000 (2)

SALAH satu pengalaman berharga saat menjadi pencetus akun twitter @triomacan2000 dulu dialami ketika saya dan dua orang teman saya mau dijadikan target kriminalisasi oleh Umar Sadat Hasibuan staf ahli Mendagri RI. Saat itu Umar Sadat yang bersama sekitar 30 orang temannya (sebagian besar preman asal Indonesia Timur) secara tiba mendatangi rumah sakit Thamrin Jakarta untuk mencari saya. Mereka naik ke lantai 3 Ruang ICCU RS Thamrin dimana ibu saya sedang kritis karena sakit komplikasi diabetes dan ginjal sedang dirawat.

Umar Syadat Hasibuan sebelumnya memang kami ketahui sedang mencari gara - gara dengan kami. Dia cari - cari alasan agar kami terpancing berkonflik dengan dia. Belakangan kami ketahui diduga motifnya adalah uang suap 1 miliar rupiah dari seorang pejabat tinggi negara yang membenci kami karena info korupsi dan mafianya kami bongkar. Informasi ini kami peroleh dari penyidik polri yang menangani kasus kami.

Umar mengetahui keberadaan kami di RS Thamrin dari seorang senior yang memberikan informasi itu karena Umar Sadat menghubungi dia melalui telepon dan menanyakan dimana ibu saya dirawat. Alasannya dia mau membezuk ibu saya yang sedang kritis tersebut. Dengan niat baik, senior itu memberitahukan Umar Sadat bahwa Ibu saya dirawat di RS Thamrin seteleh sebelumnya sempat dirawat di RS Tebet Jakarta Selatan.

Saat menyerbu RS Thamrin sampai ke lantai 3 ruang ICCU, Umar tidak menemukan saya karena saat itu saya sedang makan di Warung Obonk depan RS Thamrin. Gagal ketemu saya di RS. Umar tanpa sengaja mampir ke Warung Obonk. Saya yang melihatnya langsung menegur junior saya tersebut. Umar Sadat itu memang termasuk yunior saya. Dia pertama sekali merantau ke Jakarta juga dibantu oleh teman - teman saya, seperti Abdul Rasyid. Aam Sapulette dan lain - lain. Melalui para seniornya itulah, Umar Sadat kemudian berhasil masuk dalam lingkaran kekuasaan bahkan sempat dekat Sekretaris Militer Presiden Brigjen Kurdi Mustofa melalui bantuan teman saya juga Ahmad Muqqowam (mantan Ketua Komisi V dan IV DPR, Calon Ketum PPP pada Munas PPP tahun lalu).

Sejak itu Umar Sadat makin berkibar. Apalagi dia pandai menempel ke Andi Arif (Stafsus SBY) dan Aam Sapulette (mantan Stafsus SBY, sekarang termasuk orang “kesayangan” SBY).  Andi dan Aam itu juga pernah dekat dengan saya dan sering saya bantu. Makanya, saya sangat heran kenapa Umar Sadat yang notabene adalah yunior saya dan dibesarkan oleh teman-teman saya, tega berkhianat dengan mencoba kriminalisasi saya hanya karena iming - iming sesuatu dari pejabat tinggi negara. Moralitasnya patut dipertanyakan.

Rencana kriminalisasi saya itu sebenarnya sudah saya ketahui sebelumnya. Seorang adik saya yang bekerja di sebuah media massa terkemuka memberitahukan rencana tersebut, termasuk rapat - rapat di Kalibata dan Tebet untuk mengatur jebakan terhadap saya.

Tidak heran ketika, Umar Sadat saat masuk ke Warung Obonk bersama dua orang temannya, Yudika dan Ongen, dia kaget ketika saya tegur dengan salam duluan, langsung mengambil blackberry-nya, hampiri saya dan dua teman saya lalu mengarahkan BB nya ke wajah kami, mencoba memotret.

Begitu blizt BB nya menyala, kami langsung sadar niat jahat Umar Sadat ini. Segera dia saya tegur atas perbuatannya yang melanggar hukum dan etika itu. Dia berkilah bantah telah memotret kami, dia bilang bahwa dia hanya momotret dinding restoran hehehe.

Temannya Umar Sadat yang bernama Ongen  langsung menelpon temannya. Dia minta semua teman - teman yang sudah berkumpul dan siaga segera datang ke Warung Obong. “Kalian semua datang secepatnya kemari. Orangnya ada disini. Bawa semua golok, parang, kapak. Ada yang mau kita bacok disini” begitulah kira - kira yang diucapkan Ongen melalui handphone-nya. Setelah itu dia masuk ke toilet Warung Obonk dan lama berada di dalam toilet. Tidak tahu berbuat apa dia di dalam Toilet selama 20an menit itu.

Tak lama kemudian beberapa orang berbadan kekar, rambut ikal dan kulit sawo matang khas Indonesia Timur tiba di Warung Obonk. Sebagian masuk ke warung, sebagian berjaga - jaga di luar. Jumlah mereka terus bertambah sehingga total hampir 30 orang.

Meski jumlah mereka banyak, saya tetap datangi Umar dan tanyakan maksud dia mencuri foto wajah saya. “Maksud,u apa Umar ? Model kayak kau ini banyak yang sudah aku bereskan” ujar saya yang memang pada saat itu sedang galau karena disaat - saat ibu saya kritis ada pengacau kayak Umar ini cari gara - gara. Ketika saya menghampiri Umar, tiba - tiba saja Judika, teman Umar yang saat itu kami duga sedang mabuk atau “fly” mencoba memukul saya dari belakang. Usaha Judika itu gagal karena diketahui duluan oleh seorang teman saya yang mendorongnya hingga terjatuh. Judika ngamuk memukul membabi buta, lucunya hanya dengan sedikit mengelak, Judika tiba - tiba terjerembab menabrak lemari pendingin dan meja warung. Keributan kecil itu ternyata menakutkan Umar Sadat, dia teriak - teriak kayak anak kecil memanggil Ongen yang masih berdekam di toilet hehehehe.

Para preman bayaran Umar Sadat tidak berani bertindak kasar, sebagian mereka masuk dan mencekal tangan kami sambil mengeluarkan ancaman - ancaman pembunuhan. Tapi mereka tidak ada yang memukul. Perintah kepada mereka kelihatannya sangat jelas. Hanya memback up Umar Sadat Hasibuan  jika ternyata dalam posisi berbahaya.

Singkatnya, peristiwa keributan kecil di warung tersebut usai setelah dua jam berlalu. Apalagi saya tidak bisa berlama -lama karena perawat RS Thamrin minta saya utuk segera membeli obat tambahan untuk ibu saya. Umar Sadat, Judika dan Ongen serta 20an preman bayarannya pun meninggalkan warung dengan terlebih dahulu secara tanpa hak dan melanggar hukum menyita KTP kedua teman saya, memotretnya dan menyebarkannya melalui internet. Tindakannya ini tentu berpotensi ditindak sesuai hukum pidana.

Tak lama kemudian, berita tentang keributan di Warung Obonk depan RS Thamrin itu beredar luas. Dimulai dengan pemuatan berita yang sebagian besar dan sudah diputarbalikan oleh detik.com. Kami juga telah dilaporkan ke Polres Jakspus oleh Umar Sadat cs. Tuduhannya ? Kami melakukan penganiyaan !! Duh biyuuung …hehehe

Keesokan harinya beberapa petugas reskrim polres datang ke Warung Obonk yang jadi TKP. Kebetulan kami juga lagi ada disana. Melihat petugas reskrim yang bertanya - tanya dengan pelayan dan foto - foto seluruh restoran itu kami langsung tanyakan maksud petugas reskrim polres itu. Mereka bilang bahwa mereka sedang menindaklanjuti laporan pengaduan Umar Sadat cs. Kami langsung memberitahukan bahwa kamilah pihak terlapornya. Para polisi yang sedang bertugas itu kaget, kok ada terlapor yang terus terang kayak begini. Mereka lalu minta kami datang ke Polres Jakarta Pusat untuk diminta keterangan. Lalu kami pun berangkat ke Polres.

Sampai di Polres, Kasat Reskrim dan pimpinan Polres Jakarta Pusat lainnya menanyakan kepada kami, ada persoalan apa sebenarnya. Kenapa banyak sekali telpon dari “atas” berisikan perintah dan permintaan agar kami segera ditahan. Ini suatu hal yang aneh kata perwira - perwira petinggi polres itu.  Dengan apa adanya, kami sampaikan kronologis kejadian agar penyidik dan pimpinan polres tahu kejadian sebenarnya. “Jika hukum mengharuskan kami ditahan, silahkan Pak” ujar saya.

Menghadapi tekanan bertubi dari atas untuk segera menahan kami, pihak polres awalnya cukup kewalahan juga. Namun setelah mereka memeriksa kami dan beberapa saksi, akhirnya penyidik memahami fakta - fakta yang sesungguhnya. Penyidik berkesimpulan bahwa sebenarnya kami adalah korban. Bukan pelaku kejahatan sebagaimana yang dituduhkan Umar Sadat cs. Pihak polres malah menanyakan kepada kami apakah kami akan melaporkan balik upaya kriminalisasi oleh Umar Sadat cs ini. Kami memang melaporkan balik secara resmi tindak pidana Umar Sadat cs tersebut namun minta proses hukumnya tidak usah diteruskan dulu. Dipending saja sampai suatu saat jika mereka mengulangi perbuatannya, pihak polres kami persilahkan untuk menindaklajuti atau langsung menjadikan mereka sebagai tersangka. Alhamdulilah, permintaan kami disetujui polres. Salah seorang perwira polisi sempat menyeletuk “Duh ini persoalan politik kok dibawa - bawa ke polisi sih? Gara - gara kasus ini kami jadi dibuat repot” ujarnya. Mendengar ucapan tersebut, kami pun meminta maaf atas ketidaknyaman yang dialami bapak - bapak dan ibu polisi itu…..sekian (bersambung)

Suka Duka Pencetus Akun Triomacan2000

Saya sama sekali tidak pernah menduga akun twitter yang saya buat pada tanggal 1 April 2011 lalu dengan nama Triomacan2000 kemudian menjadi penuh kontroversi.

Meski akun twitter tersebut sudah lama tidak lagi saya kelola namun masih banyak kalangan yang menganggap akun tersebut tetap saya kelola sehingga kerap sekali merepotkan saya yang sehari - hari sudah disibukan aktivitas tugas pekerjaan rutin yang menjadi tanggung jawab saya.

Melalui Kompasiana ini perkenankan saya menyampaikan penjelasan dan informasi yang kiranya dapat menjawab berbagai pertanyaan yang sering kali timbul dari banyak kalangan. Pemilihan nama akun twitter triomacan2000 sebenarnya tidak merujuk pada satu makna khusus atau makna tertentu. Nama itu muncul begitu saja atau random dari proses pemilihan nama secara acak dan sesuai ketersediaan di manajemen twiter. Sekali lagi, nama tersebut tidak punya makna apa pun. Random saja. Kadang kala saya merasa geli sendiri ketika ada sementara orang yang mengait-ngaitkan pemilihan nama triomacan2000 dengan sekelompok orang tertentu atau disebut-sebut punya arti khusus. Tidak.

Sejak terjadinya musibah dimana saya ketika itu sedang menemani ibunda tercinta yang akan menemui Sang Khalik dan pada saat itu juga ada sekelompok orang (sekitar 20an) orang bergaya preman menyerbu rumah sakit tempat Ibunda saya dirawat, yang mana maksud mereka itu adalah memancing keributan dengan segala cara yang biadab agar kemudian dengan kekuasaannya mereka bisa mengkriminalisasi saya demi uang suap yang cukup besar (saya dengar sekitar Rp. 1 miliar dari seorang yang tidak usah saya sebut namanya disini).

Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar. Usaha mereka mengkriminalisasi  saya (dan teman-teman saya) akhirnya gagal karena polisi / penyidik bekerja secara profesional dan menemukan fakta-fakta hukum yang memberatkan para preman penyerbu itu. Dengan ikhlas, saya pun tidak meneruskan proses hukum terhadap para preman bayaran tersebut.

Sejak saat itu, saya mulai meninggalkan aktivitas di lini masa twitter yang ternyata dapat menyebabkan sejumlah orang terutama para koruptor merasa terancam. Kepada teman - teman yang sebelumnya aktif menjalin korespondensi di dunia maya, pengelolaan akun tersebut saya serahkan. Meski demikian, sesekali saya ada mengirimkan materi yang nenurut saya nenarik untuk dibahas oleh teman-teman tersebut.

Tak disangka, selepas pengelolaan dari saya, akun twitter triomacan itu malah semakin eksis dengan intensitas dan frekwensi aktif yang sangat tinggi, hampir-hampir aktif selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Luar biasa. Saya pribadi menilai semua ini sebagai bentuk kesungguhan dan keseriusan para pengelola akun tersebut dalam menjalankan misi dan visinya sebagai akun pencerahan, pencerdasan dan antikemunafikan demi anak bangsa Indonesia yang merdeka. Terima kasih atas dedikasi teman-teman semua.

Perjuangan mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran memang bukan pekerjaan mudah. Sangat berat. Membutuhkan konsistensi dan dedikasi maksimal dari setiap pelakunya. Semoga Allah SWT membalas amal ibadah teman-teman semua. Amin.

Di tengah - tengah pengendalian opini publik oleh media-media mainstream yang kian kehilangan indentitas dan idealismenya, media mikro seperti socmed (twitter dan facebook) semoga bisa memberikan setitik harapan sebagai penyeimbang opini yang secara sistematis diciptakan media mainstream untuk kepentingan tertentu yang pasti tidaklah baik dan benar.

Apakah socmed seperti triomacan2000 ke depan mampu berperan besar sebagai salah satu rujukan utama masyarakat banyak yang menginginkan informasi tertentu yang lebih fair dan akurat, biarlah waktu yang menentukannya. Tetapi, saya yakin seyakinnya, saat ini akun tersebut sudah berada di tangan orang yang tepat yang memiliki sumber daya dan kemampuan menjalankan visi dan misi akun sebagaimana tercantum dalam bio akun tersebut. Semoga.  - bersambung.

Pro Kontra Jembatan Selat Sunda

Siapakah bisa membantah fakta terjadinya kemacetan panjang kendaraan sampai 26 kilometer dari mulut dermaga penyeberangan Merak sampai mengular di jalan tol Merak - Jakarta setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri ?

Siapakah bisa membantah fakta kemacetan itu menimbulkan rasa menyiksa berkepanjangan, kadang lebih dari 48 jam, yang dialami oleh para penumpang yang ingin menggunakan fery penyebrangan Merak - Bakauheni ?

Siapakah yang bisa membantah pemborosan yang ditimbulkan oleh setiap peristiwa kemacetan yang sering dijuluki warga Merak, Serang, Banten sebagai konvoi kendaraan terpanjang sedunia itu ?

Siapakah yang merasakan semua derita dan kerugian itu ?

Ketika pertama sekali rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dibahas serius di tahun 1960an, semua pihak yang terlibat dalam rencana proyek itu menyadari bahwa moda transportasi laut dalam hal ini kapal ferry tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan transportasi kendaraan, orang dan barang pada masa mendatang. Pertumbuhan ekonomi yang dikuti dengan pertumbuhan jumlah kendaraan dan jumah manusia di Pulau Jawa dan Sumatera dipastikan membutuhkan moda transportasi yang lebih cepat, ekonomis, efisien, aman dan nyaman. Kebutuhan tersebut hanya dapat dipenuhi oleh pembangunan JSS sebagai moda trasportasi utama antara dua pulau dan tetap mempertahankan moda trasportasi ferry sebagai pendukung sekaligus alternatif bagi pelintas pulau sebagai pengguna jasa. Artinya, dengan ketersediaan dua moda transportasi itu, konsumen memliki kebebasan memilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Hampir 50 tahun berlalu rencana pembangunan JSS itu masih dalam bentuk tuangan di atas kertas. Tidak ada progres dari rencana sebagai implementasinya. Kebutuhan tersedianya dana yang sangat besar menyebabkan rencana yang dimatangkan sejak puluhan tahun yang lalu itu tetap tidak terwujud. Pemerintah Indonesia sampai pada hari ini tidak mungkin mampu membangun JSS karena keterbatasan dana pembangunan. Meski jumlah APBN 2013 sudah mencapai Rp. 1.600 triliun,  namun dari total jumlah tersebut masih sangat minim yang merupakan bagian dari anggaran pembangunan infrastruktur yang dapat digunakan untuk membiayai JSS yang diperkirakan akan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 120 - 150 triliun.

Pemerintah Indonesia tidak mungkin menggunakan dana APBN untuk membiayai pembangunan JSS. Struktur atau komposisi APBN Indonesia masih didominasi oleh peruntukan biaya rutin seperti gaji dan belanja pegawai, pembayaran utang pemerintah yang terdiri dari luar negeri, utang domestik, utang BLBI dan utang lain berikut dengan bunganya yang mencapai ratusan triliun per tahun.

APBN Indonesia masih terbebani biaya subsidi energi dan listrik, biaya subsidi pupuk dan ketahanan pangan, biaya subsidi untuk kewajiban pelayanan publik (public service obligation /PSO), biaya subsidi bunga untuk pengembangan usaha koperasi dan UMKM  dan biaya subsidi - subsidi lainnnya.

APBN Republik Indonesia harus mengutamakan penyaluran anggaran ke daerah -daerah seluruh Indonesia baik pemerintah propinsi, daerah otonom, daerah khusus dan daerah istimewa. Termasuk juga dana hibah, bagi hasil dan perimbangan pusat - daerah. Dengan kata lain, APBN  tahun 2013 sampai setidaknya sepuluh tahun mendatang mustahil menyisihkan sebagian portofolionya untuk membiayai proyek JSS.

Pembiayaan proyek JSS melalui skema utang pemerintah juga mustahil dilakukan karena akan semakin memperbesar defisit APBN terhadap PDB (product domestic bruto). Keadaan ini akan semakin melemahkan ketahanan ekonomi nasional dan sangat riskan ditempuh sebagai solusi pembiayaan proyek JSS. Sementara itu, urgensi keberadaan jembatan pemyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu semakin mendesak.

Peningkatan pengguna jasa ferry penyeberangan Merak - Bakauheni setiap tahun semakin besar. Jumlah mobil pribadi, truck, bus dan sepeda motor serta orang dan barang yang diangkut awalnya 41 kapal ferry kian tidak terlayani. Dari 41 kapal ferry itu pun hanya 25 - 30 unit kapal yang dapat dikatakan bisa beroperasi dengan baik. Penambahan unit kapal dan dermaga penyeberangan selain membutuhkan biaya yang sangat besar, juga kurang diminati investor swasta. Sedangkan BUMN PT. ASDP dan Pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pengadaan kapal dan dermaga tambahan tersebut.

Disamping itu, semua ahli transportasi sepakat, jika volume kendaraan dan manusia yang diangkut kapal  ferry antar pulau sudah melebihi 1 juta kendaraan atau 5 juta orang per tahun, moda transportasi ferry sudah tidak lagi memadai dan ideal. Kondisi riel volume penumpang Merak - Bakauheni saat ini sudah lebih 6 juta penumpang per tahun dan kendaraan lebih 1 juta unit per tahun. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya. Bahkan pada saat menjelang lebaran jumlah kenderaan sudah lebih 10.000 unit per hari dan jumlah penumpang sudah lebih 100.000 orang. Mobilisasi kendaraan dan manusia sebanyak itu sudah tidak lagi ideal untuk dilayani moda kapal ferry. Terlalu banyak kapal ferry yang dibutuhkan dan terlalu banyak dermaga penyeberangan yang harus dibangun. Dampak sosial ekonominya akan cenderung destruktif dan riskan bilamana terjadi kerusakan pada kapal ferry pengangkut dan fasilitas dermaga.

Dalam 10 tahun ke depan, jumlah kendaraan dan penumpang akan melonjak tajam lebih dari 100%. Kapal ferry yang tersedia tak akan mampu melayani semua konsumen dan dipastikan akan menciptakan ledakan kemacetan yang sangat parah dan membahayakan secara sosial, ekonomi dan politik. Dengan volume 100.000 orang penumpang dan 10.000 unit kendaraan yang akan melintasi selat Sunda seperti saat ini, kapal ferry dan dermaga Merak - Bakauheni sudah tidak mampu melayani dan menimbulkan kemacetan sepajang belasan hingga puluhan kilometer.

Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) sepanjang 30 km dengan moda transportasi jalan raya yang mampu dilintasi 600.000 unit mobil setiap hari dan jutaan orang baik yang menumpang kendaraan mau pun kereta api dipastikan akan menjadi solusi sampai puluhan bahkan seratus tahun ke depan. Sementara itu, moda kapal ferry tetap difungsikan sebagai pilihan atau alternatif bagi para konsumen yang membutuhkannya. Kedua sistem transportasi dengan tiga moda ini (ferry, kereta dan tol) adalah solusi terbaik untuk rakyat dan negara Indonesia. Bahkan dengan proyek JSS ini, pengembangan kawasan sekitar mulut jembatan di Lampung dan Banten akan menjadi nilai tambah yang luar biasa di mana sektor transportasi bisa diintegrasikan dengan sektor industri dalam satu kawasan terpadu.

Manfaat  luar biasa lain yang diperoleh dari proyek JSS yang dibiayai investor swasta ini adalah multiplier effects yang sudah akan dinikmati oleh berbagai pihak terutama masyarakat sekitar, belasan hingga puluhan ribu pekerja proyek JSS, para subkontraktor, vendor, dan lain - lain. JSS adalah proyek raksasa dengan manfaat yang luar biasa. JSS proyek megaraksasa yang menjadi ikon kebanggaan nasional Indonesia. Selamat tinggal penderitaan jutaan pelintas Jawa - Sumatera. Selamat  datang kenyamanan, keamanan, kemakmuran dan kebanggaan kita sebagai rakyat Indonesia. Sekian.