Sabtu, 21 Desember 2013
Kenapa Para Tokoh Unggulan Akhirnya Terjerat Kasus Korupsi?
Siapa yang tidak kenal reputasi luar biasa bagus yang sebelumnya melekat pada pribadi tokoh – tokoh unggulan dan teladan di kampusnya, di kancah nasional dan di panggung dunia internasional seperti : Prof. Dr. Rudi Rubiandini, Prof Dr. Rokhim Dahuri, Prof. Dr. Nazaruddim Sjamsudin dan seterusnya sebelum mereka tersungkur terjerembab menjadi tersangka, terdakwa dan akhirnya terpidana korupsi ?
Siapa yang tidak menyesalkan jeratan kasus pidana korupsi terhadap diri mereka ? Kasus korupsi yang menyesakan dada dan disesalkan seluruh rakyat Indonesia ? Apakah semua itu harus terjadi ? Apakah semua itu terjadi begitu saja ? Apakah karakter mereka mendadak berubah setelah beralih profesi dari ilmuan akademisi menjadi koruptor atau memang ada skenario konspirasi dari pihak tertentu yang sengaja merancang jebakan untuk menjerat dan mengkriminalisasi para tokoh teladan moral dan integritas bangsa itu ?
Mari kita bahas ungkap semuanya agar tidak menjadi preseden berkepanjangan di kemudian hari. Agar kasus mereka dapat menjadi pelajaran dan tidak terulang kembali terutama terhadap tokoh – tokoh akademisi kampus berintegritas tinggi yang saat ini menjadi teladan dan suatu saat nanti ditunjuk menjadi pejabat tinggi negara memimpin sebuah instansi atau institusi negara yang besar dan strategis.
Rokhim Dahuri sosok akademisi cemerlang dari Institut Pertanian Bogor (IPB) terjatuh hanya karena beliau mengumpulkan sumbangan dari pihak rekanan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mana uang sumbangan tersebut bersifat sukarela, tercatat secara rapi sebagai ganti dari kebijakan beliau menghapuskan dan melarang suap di lingkungan Kementeriam KP. Beliau terbukti tidak menggunakan uang sumbangan rekanan tersebut untuk kepentingan memperkaya diri, keluarga atau kroni – kroninya. Uang tersebut lebih banyak digunakan untuk sumbangan kegiatan sosial atau kegiatan tokoh – tokoh tertentu diantaranya Amien Rais yang kemudian terungkap ke publik dan menjadi salah satu penyebab Rokhim dijadikan tersangka korupsi, lalu divonis bersalah. Beliau jadi narapidana korupsi dan dipenjarakan. Sungguh mengenaskan !
Nazaruddin Sjamsuddin, siapa yang meragukan jasa luar biasa beliau ketika sukses mengemban amanah selaku Ketua Komisi Pemiliha Umum (KPU) RI yang menyelenggarakan pemilihan umum dan pemilihan presiden tahun 2004, yang untuk pertama kalinya dilaksanakan secara langsung dan sangat demokratis di Indonesia. Ditengah – tengah hampir semua pihak sebelumnya meragukan keberhasilan beliau mensuksekan pemilu /pilpres. Beliau adalah figur unggulan dari Universitas Indonesia (UI), baik keilmuan, moral, integritas dan kredibilitas Nazaruddin Sjamsuddin yang terkenal sampai ke seluruh dunia, namun akhirnya terpelanting, dituduh menerima suap dan merugikan negara (padahal tidak benar) serta divonis bersalah. Sungguh sangat mengenaskan !
Rudi Rubiandini dosen teladan dan terpintar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) terperangkap konspirasi mafia migas Indonesia yang bekerjasama dengan oknum – oknum KPK yang kemudian menjadikannya sebagai tersangka kasus suap ratusan ribu US$ yang sampai sekarang belum jelas motifnya. Namun, bagaimana pun juga, beliau kini menjadi pesakitan KPK. Tanpa rakyat banhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Sungguh amat sangat mengenaskan !
Pelajaran apa dapat kita petik dari musibah menimpa tokoh – tokoh tersebut di atas ? Kenapa nasib mereka bisa berubah drastis dari seorang pahlawan dan teladan menjadi orang yang terpinggirkan ? Kenapa mereka tidak mampu, tidak kuasa, tidak berhasil menghadapi jebakan dan perangkap para mafia dan oknum – oknum aparat hukum antek kaki tangan para mafia ? Satu hal kita, seluruh rakyat Indonesia, harus mencamkan bahwa mereka tersebut di atas, para tokoh unggulan dan teladan itu sesungguhnya tidaklah berubah dari karakter asli mereka yang berintegritas dan bermoral tinggi.
Mereka menjadi korban keadaan. Mereka dikondisikan untuk menjadi penjahat dan koruptor. Mereka adalah para teladan yang jadi tumbal permainan elit kekuasaan …miris.
Kepada seluruh tokoh terutama di lingkungan akademis, berhati – hatilah jika anda semua mendapatkan amanah ditunjuk menjadi pejabat tinggi negara di birokarasi pemerintahan atau negara. Dunia kekuasaan itu berbeda dengan dunia kampus. Banyak penjahat, mafia, bajingan penguasa yang tampil di depan dengan wajah malaikat berkedok demi rakyat padahal mereka adalah Iblis Durjana. Mereka tidak sungkan – sungkan mengancurkan anda semua jika tidak bersedia memenuhi keinginan mereka atau mereka menganggap anda semua telah merugikan kepentingannya dengan kehadiran anda sebagai pejabat negara.
Ketika anda masuk ke lingkungan dunia kekuasaaan melalui penunjukan / pengangkatan anda sebagai pejabat negara, sesungguhnya anda sudah berada dalam ancaman cengkraman mereka. Anda seperti perawan di sarang penyamun. Waspadalah …waspadalah …seperti nasihat Bang Napi. Sekian. Terima kasih.
Kamis, 12 Desember 2013
Pelecehan Seksual Ulin Yusron pada Konsultan Cantik Edelman
Gue temen deketnya Safira Mardjono yang sekarang bekerja sebagai salah satu staff konsultan di Indopacific Edelman. Sebelum gabung ke Indopacific, Safira bekerja di koran The Jakarta Post. Dan Safira juga dikenal sebagai penulis buku In Between Euphoria and Melancholy (lihat foto di atas).
Memutuskan pindah jalur dan bekerja sebagai konsultan, Safira cerita ke gue karirnya disini bakal lebih baik. Walaupun Safira pernah cerita, kok pindah jadi konsultan ujung-ujungnya cuma nulis Press Rilis buat media dan wartawan, tapi gue tau semangat dia masih gede dan serius geluti karir barunya.
Temen gue yang satu ini emang cakep, wajar kalo banyak yang demen. Safira pun tau dan selalu mawas diri. Dia juga selalu ingin keliatan low profile. Walaupun menurut gue, sebiasa-biasanya dia dress up, pakai baju paling kasual pun, tetep aja keliatan wah he3
Tapi Safira betul-betul nggak nyangka kalo dirinya bakal menerima pelecehan seksual dari wartawan. At least, itu nggak pernah kepikiran waktu Safira pindah jalur dari wartawan jadi konsultan.
Makanya dia kaget banget waktu dilecehkan secara seksual oleh wartawan Jurnal Parlemen namanya Ulin Ni’am Yusron waktu acara di Singapur. Indopacific pada 16 November kemaren bikin acara semacam training gitu di Singapur dan mengundang beberapa wartawan, termasuk si Ulin ini.
Gue sebagai temen deket Safira maklum banget kalo banyak yang tertarik sama gadis pinter dan berkarakter ini. Makanya gue nggak heran kalo Ulin mungkin tertarik sama Safira.
Tapi dari curhatnya Safira, ternyata Ulin kurang ajar banget. Selama acara di Singapur, Ulin terus aja nempelin Safira. Awalnya modus ngobrol-ngobrol biasa, lalu mulai deh narsisnya Ulin cerita-cerita kalo dia yang bikin portal beritasatu.com. Terus dia juga cerita kalo punya servis detektif swasta namanya kalo nggak salah Aviyasa Consulting.
Terus dia cerita juga soal portal beritasatu.com yang dia bangun dengan dana ratusan juta rupiah akhirnya harus dijual ke Lippo Group karena masalah keuangan. Kalo menurut gue sih, palingan karena bad manajemen ajah, makanya sampe harus dijual.
Masih kurang narsis, Ulin juga cerita-cerita kalo dia sekarang cuma wartawan biasa di jurnal parlemen. Maksudnya palingan pengen bilang kalo dia pernah jadi bos, terus jatuh bangkrut, terus survive jadi bawahan lagi.
Intinya kalo gue bilang sih pengen cari perhatian aja dari Safira.
Yang paling kurang ajar tuh ya, masak si Ulin ngajakin Safira ML (Making Love) selama acara di Singapur. Pelecehan seksual Ulin dilakukan terang-terangan. Ngajak ML sambil colek-colek si Safira. Jijik banget nggak sih kelakuannya?
Dan kata Safira, pelecehan seksual Ulin nggak terjadi sekali. Selama 2 hari berturut-turut Ulin coba-coba tawarin mau ML apa nggak sama dia. Gila aja. Dan nggak cuma pelecehan seksual secara verbal ajah, pakai colek-colek segala. Udah ditolak, dimarahin sama Safira, masih ajah terus-terusan ngajak ML sambil colek-colek. Kampungan. Masak kelakuan wartawan begitu.
Sori-sori aja ya temenku yang cakeeepp.. Nggak ada maksud jelek kok disini. Gue yang bongkar disini, supaya publik tau kalo Ulin udah kurang ajar sama loe.
Emang bangsat tuh kelakuan si Ulin. Hans David ajah sampe kesel banget sama si Ulin.
Buat yang belum tau muke si pelaku pelecehan seksual, nih gue kasih fotonyah
Banyak gaya, nggak taunya tipe yang suka ngerendahin cewek. Bajingan kau Ulin.
*dedicated to Safira Mardjono yang telah menerima perlakuan tidak menyenangkan pelecehan seksual dari Ulin Ni'am Yusron dan akhirnya harus menghapus akunnya di Twitter. Indopacific Edelman, kantor tempatnya bekerja pun meminta Safira tidak merespon apalagi maju ke jalur hukum, karena tidak ingin berbenturan dengan wartawan. Indopacific malah membantu Ulin mendesak Kompasiana dan Kaskus untuk menghapus tulisan ini agar tidak terblow up.
Memutuskan pindah jalur dan bekerja sebagai konsultan, Safira cerita ke gue karirnya disini bakal lebih baik. Walaupun Safira pernah cerita, kok pindah jadi konsultan ujung-ujungnya cuma nulis Press Rilis buat media dan wartawan, tapi gue tau semangat dia masih gede dan serius geluti karir barunya.
Temen gue yang satu ini emang cakep, wajar kalo banyak yang demen. Safira pun tau dan selalu mawas diri. Dia juga selalu ingin keliatan low profile. Walaupun menurut gue, sebiasa-biasanya dia dress up, pakai baju paling kasual pun, tetep aja keliatan wah he3
Tapi Safira betul-betul nggak nyangka kalo dirinya bakal menerima pelecehan seksual dari wartawan. At least, itu nggak pernah kepikiran waktu Safira pindah jalur dari wartawan jadi konsultan.
Makanya dia kaget banget waktu dilecehkan secara seksual oleh wartawan Jurnal Parlemen namanya Ulin Ni’am Yusron waktu acara di Singapur. Indopacific pada 16 November kemaren bikin acara semacam training gitu di Singapur dan mengundang beberapa wartawan, termasuk si Ulin ini.
Gue sebagai temen deket Safira maklum banget kalo banyak yang tertarik sama gadis pinter dan berkarakter ini. Makanya gue nggak heran kalo Ulin mungkin tertarik sama Safira.
Tapi dari curhatnya Safira, ternyata Ulin kurang ajar banget. Selama acara di Singapur, Ulin terus aja nempelin Safira. Awalnya modus ngobrol-ngobrol biasa, lalu mulai deh narsisnya Ulin cerita-cerita kalo dia yang bikin portal beritasatu.com. Terus dia juga cerita kalo punya servis detektif swasta namanya kalo nggak salah Aviyasa Consulting.
Terus dia cerita juga soal portal beritasatu.com yang dia bangun dengan dana ratusan juta rupiah akhirnya harus dijual ke Lippo Group karena masalah keuangan. Kalo menurut gue sih, palingan karena bad manajemen ajah, makanya sampe harus dijual.
Masih kurang narsis, Ulin juga cerita-cerita kalo dia sekarang cuma wartawan biasa di jurnal parlemen. Maksudnya palingan pengen bilang kalo dia pernah jadi bos, terus jatuh bangkrut, terus survive jadi bawahan lagi.
Intinya kalo gue bilang sih pengen cari perhatian aja dari Safira.
Yang paling kurang ajar tuh ya, masak si Ulin ngajakin Safira ML (Making Love) selama acara di Singapur. Pelecehan seksual Ulin dilakukan terang-terangan. Ngajak ML sambil colek-colek si Safira. Jijik banget nggak sih kelakuannya?
Dan kata Safira, pelecehan seksual Ulin nggak terjadi sekali. Selama 2 hari berturut-turut Ulin coba-coba tawarin mau ML apa nggak sama dia. Gila aja. Dan nggak cuma pelecehan seksual secara verbal ajah, pakai colek-colek segala. Udah ditolak, dimarahin sama Safira, masih ajah terus-terusan ngajak ML sambil colek-colek. Kampungan. Masak kelakuan wartawan begitu.
Sori-sori aja ya temenku yang cakeeepp.. Nggak ada maksud jelek kok disini. Gue yang bongkar disini, supaya publik tau kalo Ulin udah kurang ajar sama loe.
Emang bangsat tuh kelakuan si Ulin. Hans David ajah sampe kesel banget sama si Ulin.
Buat yang belum tau muke si pelaku pelecehan seksual, nih gue kasih fotonyah
Banyak gaya, nggak taunya tipe yang suka ngerendahin cewek. Bajingan kau Ulin.
*dedicated to Safira Mardjono yang telah menerima perlakuan tidak menyenangkan pelecehan seksual dari Ulin Ni'am Yusron dan akhirnya harus menghapus akunnya di Twitter. Indopacific Edelman, kantor tempatnya bekerja pun meminta Safira tidak merespon apalagi maju ke jalur hukum, karena tidak ingin berbenturan dengan wartawan. Indopacific malah membantu Ulin mendesak Kompasiana dan Kaskus untuk menghapus tulisan ini agar tidak terblow up.
Surat Sakti Dahlan Iskan Muluskan 4 Ladang Migas Cepu Pertamina EP Ke Geo Corp
PT Pertamina (Persero) menyerahkan 4 ladang tua Enchanced Oil Recovery (EOR) Migas di Blok Cepu yang dikelola anak usaha PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PT EP) kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Geo Minergy Corporation, langkah ini disayangkan oleh sejumlah pihak karena lapangan migas di Cepu dikatakan salah satu andalan perseroan untuk meningkatkan produksi minyak mentah dan kondensat, namun justru diserahkan kepihak asing melalui Kersama Sama Operasional (KSO) Pertamina EP dengan Geo Cepu Corporation. Namun di sisi lain perusahaan BUMN ini malah ingin mengambil alih Blok Mahakam dan Siak dari PT Total dan PT Chevron, sementara lapangan yang ada justru diserahkan kepada pihak ketiga.
Dari informasi yang dihimpun oleh beritaheadline.com bahwa keputusan Pertamina tersebut, ternyata didasari oleh campur tangan Menteri BUMN Dahlan Iskan karena secara pribadi mengenal Direktur Geo Cepu, Gunawan Hadi yang sebelumnya menyerahkan surat curhatan kepada Dahlan dan pada ujung-ujungnya Dahlan justru memberikan memo kepada Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan, dan oleh Karen diteruskan lagi dengan mengeluarkan disposisi kepada Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Afdal Bahaudin serta Direktur Hulu Muhammad Husen untuk dibahas dalam rapat direksi.
“Masukan dari Pak Dahlan. Bahas di BOD yaa bersama-sama dengan PTEP,” demikian kutipan tulisan tangan Karen Agustiawan pada (22/07/2013) di lembar penerus disposisi.
PT Pertamina (Persero) akhirnya membahas disposisi dari Dahlan Iskan tersebut dan lima hari kemudian atau pada (29/07/2013) antara PT Pertamina dengan Geo Corp menandatangani kesepakatan rencana kerjasama peningkatan produksi melalui EOR.
Sungguh sakti surat memo dari Dahlan Iskan sehingga menggugah PT Pertamina (Persero) untuk menunjuk Geo Corp sebagai mitra di Blok Cepu. Padahal proposal Geo Corp pernah dibahas oleh perusahaan BUMN itu setahun lalu dan belum ada tanggapan kapan penyerahan pengelolaan sumur-sumur tua itu akan dilakukan.
Namun yang lebih anehnya lagi bahwa, pada tanggal (02/08/2013) PT Pertamina (Persero) mengubah pedoman kerjasama usaha hulu (KSO) pada wilayah kerja PT Pertamina EP yang berisi tentang diperbolehkannya mekanisme penunjukan langsung mitra KSO dalam kondisi darurat atau mendesak, sementara sebelumnya mitra KSO diharuskan melalui sejumlah proses tender (beauty contest).
Sementara, Anggota DPR RI Bobby Rizaldi menyayangkan keputusan PT Pertamina (Persero) untuk melakukan Penunjukan Langsung (PL) kepada KKKS Geo Corp tersebut, seharusnya sebelum dilakukan PL harusnya melalui sejumlah proses tender. Namun dalam waktu dekat, Fraksi Golkar dari Komisi 7 DPR RI akan segera memanggil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan terkait keputusan pemberian 4 ladang Migas tanpa melalui sejumlah proses tender.
“Tidak ada hal lain kecuali kita akan memanggil dan meminta penjelasan Ibu Karen, terkait keputusannya tersebut,” tutur Bobby sesaat menghadiri seminar Geothermal dari FWESDM pada kamis siang, (12/12/2013) di Jakarta Pusat.
Bobby menjelaskan, terkait surat disposisi Dahlan Iskan tidak menjadi persoalan, karena yang membuat keputusan dan kebijakan adalah Dirut Pertamina, sehingga tangg
Dari informasi yang dihimpun oleh beritaheadline.com bahwa keputusan Pertamina tersebut, ternyata didasari oleh campur tangan Menteri BUMN Dahlan Iskan karena secara pribadi mengenal Direktur Geo Cepu, Gunawan Hadi yang sebelumnya menyerahkan surat curhatan kepada Dahlan dan pada ujung-ujungnya Dahlan justru memberikan memo kepada Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan, dan oleh Karen diteruskan lagi dengan mengeluarkan disposisi kepada Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Afdal Bahaudin serta Direktur Hulu Muhammad Husen untuk dibahas dalam rapat direksi.
“Masukan dari Pak Dahlan. Bahas di BOD yaa bersama-sama dengan PTEP,” demikian kutipan tulisan tangan Karen Agustiawan pada (22/07/2013) di lembar penerus disposisi.
PT Pertamina (Persero) akhirnya membahas disposisi dari Dahlan Iskan tersebut dan lima hari kemudian atau pada (29/07/2013) antara PT Pertamina dengan Geo Corp menandatangani kesepakatan rencana kerjasama peningkatan produksi melalui EOR.
Sungguh sakti surat memo dari Dahlan Iskan sehingga menggugah PT Pertamina (Persero) untuk menunjuk Geo Corp sebagai mitra di Blok Cepu. Padahal proposal Geo Corp pernah dibahas oleh perusahaan BUMN itu setahun lalu dan belum ada tanggapan kapan penyerahan pengelolaan sumur-sumur tua itu akan dilakukan.
Namun yang lebih anehnya lagi bahwa, pada tanggal (02/08/2013) PT Pertamina (Persero) mengubah pedoman kerjasama usaha hulu (KSO) pada wilayah kerja PT Pertamina EP yang berisi tentang diperbolehkannya mekanisme penunjukan langsung mitra KSO dalam kondisi darurat atau mendesak, sementara sebelumnya mitra KSO diharuskan melalui sejumlah proses tender (beauty contest).
Sementara, Anggota DPR RI Bobby Rizaldi menyayangkan keputusan PT Pertamina (Persero) untuk melakukan Penunjukan Langsung (PL) kepada KKKS Geo Corp tersebut, seharusnya sebelum dilakukan PL harusnya melalui sejumlah proses tender. Namun dalam waktu dekat, Fraksi Golkar dari Komisi 7 DPR RI akan segera memanggil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan terkait keputusan pemberian 4 ladang Migas tanpa melalui sejumlah proses tender.
“Tidak ada hal lain kecuali kita akan memanggil dan meminta penjelasan Ibu Karen, terkait keputusannya tersebut,” tutur Bobby sesaat menghadiri seminar Geothermal dari FWESDM pada kamis siang, (12/12/2013) di Jakarta Pusat.
Bobby menjelaskan, terkait surat disposisi Dahlan Iskan tidak menjadi persoalan, karena yang membuat keputusan dan kebijakan adalah Dirut Pertamina, sehingga tangg
Rabu, 11 Desember 2013
Surga Bumi Sumatera
“Bumi Parahiyangan diciptakan Tuhan kala Dia tersenyum,” demikian kita sering mendengar ucapan orang yang hendak melukiskan betapa indahnya bumi dan alam Jawa Barat khususnya Bandung dan sekitarnya.
Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan alam Bandung ? Kota yang sampai saat ini menjadi tujuan terfavorit mayoritas warga Jakarta yang ingin lepaskan penat dengan berakhir pekan nikmati pesona luar biasa alam kota Bandung.
Geografi Bandung yang merupakan kawasan dataran tinggi menghadirkan hawa pegunungan yang sejuk dan segar. Seolah-olah menjadi vitamin bagi para jiwa yang kering setelah berhari-hari berpacu dengan waktu dan pekerjaan.
Kita tidak usah ragukan lagi luar biasanya pesona keindahan alam bumi parahiyangan itu. Namun apakah kita tahu bahwa nun jauh di sana, di tengah-tengah pulau Sumatera, juga ada surga yang menghanyutkan jiwa ? Surga yang terlupakan karena jarang dipromosi media, surga yang jarang dijamah kaki - kaki wisatawan karena minimnya iklan dan pengetahuan.
Sumatera Barat adalah propinsi dengan pesona alamnya yang menakjubkan. Jika hanya punya waktu sepekan, tak akan cukup bagi kita untuk merasakan semua keindahan alam minangkabau ciptaan Tuhan Yang Kuasa.
Bicara mengenai potensi pariwisata Sumatera Barat adalah bicara yang tidak pernah ada habisnya. Mulai dari daya tarik keindahaan Danau Maninjau, Singkarak sampai Danau Di Atas dan Danau Dibawah. Kedua danau terakhir ini dikenal dengan sebutan Danau Kembar. Kedua danau tersebut terletak di Desa Pasar Simpang, Kecamatan Lembayang Jaya, Kabupaten Solok, berjarak kurang lebih 47 km dari Kota Solok dan 56 km dari Kota Padang. Keunikan dari danau kembar tersebut adalah untuk menuju Danau Di atas, kita harus melalui jalan yang menurun sedangkan untuk menuju Danau Dibawah, kita harus melalui jalan yang mendaki. Di sekitar danau ditanam pohon buah markisa dan aneka pohon buah serta sayur mayur. Semua ini menakjubkan mata siapa pun yang memandangnya.
Alam Minangkabau yang terletak di sepanjang ‘punggung’ pegunungan bukit barisan itu menghadirkan pula indahnya pemandangan pegunungan yang mengelilingi propinsi Sumatera Barat. Kita dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam di sekitar kota Bukittinggi yang dihiasi Gunung Merapi, Gunung Singgalang atau Gunung Sago atau kota pemandangan kota Padang yang disaksikan dari pucak bukit yang dikenal nama Sitinjau Laut. Amazing !
Dua km sebelum memasuki kota Payakumbuh dari arah Bukitinggi kita akan sampai ke sebuah gua alam dengan stalagnit dan stalagmit pada langit-langit gua yang sangat menarik. Di dalam gua ini kita akan mendengar suara kelelawar yang berterbangan di sekitar kita dan merasakannya tanpa dapat melihatnya. Di luar gua ini kita akan menikmati taman dengan pohon-pohon yang rindang menambah kesejukan dan keindahan alam.
Masih di sekitar luar kota Payakumbuh, kita akan menemukan Lembah Harau yang merupakan cagar alam dengan bukit kapur yang curam dengan ketinggian 100 sampai 150 m yang terletak 14 km dari Payakumbuh. Disini juga ditemui lima buah air terjun yang selalu mencurahkan airnya yang jernih. Di tempat ini juga tersedia fasilitas untuk berkemah bagi wisata remaja dan kegiatan mengelilingi cagar alam melalui jalan setapak. Cagar alam ini menjadi taman margasatwa yang pertama di luar Pulau Jawa.
Bosan dengan suasana pegunungan, kita bisa berwisata pantai dan laut di Pulau Sikuai yang merupakan salah satu pulau yang terletak di sisi barat Pulau Sumatera hanya terletak sekitar setengah mil laut dari kota Padang. Di pulau yang sangat eksotis ini kita dapat menginap di hotel resort yang dilengkapi fasilitas hotel berbintang dua dan tiga. Selain menikmati keindahan pantai dan wisata bahari, trekking mengitari pulau atau menjelajahi hutan alam sampai panjat tebing juga dapat dilakukan oleh pengunjung yang hobi petualangan alam.
Banyak lagi daerah lokasi tujuan wisata di seantero Sumatera Barat. Ada Kawasan Bukit Langkisau, Jembatan Akar yang sangat unik karena terbuat dari akar dua pohon beringin yang saling bertautan. Bagi wisatawan yang hobi berselancar (surfing) dapat menjajal kemampuannya dengan ombak Mentawai, Siberut dan Sipora. Luar biasa !
Bukan hanya keindahan alam Sumatera Barat yang menjadikannya pantas kita juluki “Surga di Tenga Sumatera”, kekayaan sumber daya alam minangkabau juga menjadi legitimasi predikat surga itu. Baru-baru ini ditemukan cadangan minyak bumi yang cukup besar di cekungan atau Blok Singkarak dan cadangan emas yang sangat besar di Solok Selatan. Tidak cukup hanya di situ, BPPT pun kemudian menemukan cadangan minyak yang diperkirakan sangat besar di sekitar pulau Mentawai, setelah sebelumnya ditemukan cadangan minyak bumi yang sangat besar yakni sekitar 320 milyar barrel di perairan timur Pulau Semeulue, Nangroe Aceh Darussalam.
Sumatera Barat adalah propinsi dengan kekayaan batu kapur terbesar di Indonesia. Penemuan demi penemuan cadangan kekayaan alam mineral terus terjadi, yang seharusnya mampu mengantarkan penduduk Sumatera Barat benar-benar menjadi penghuni surga yang sesungguhnya.
Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan alam Bandung ? Kota yang sampai saat ini menjadi tujuan terfavorit mayoritas warga Jakarta yang ingin lepaskan penat dengan berakhir pekan nikmati pesona luar biasa alam kota Bandung.
Geografi Bandung yang merupakan kawasan dataran tinggi menghadirkan hawa pegunungan yang sejuk dan segar. Seolah-olah menjadi vitamin bagi para jiwa yang kering setelah berhari-hari berpacu dengan waktu dan pekerjaan.
Kita tidak usah ragukan lagi luar biasanya pesona keindahan alam bumi parahiyangan itu. Namun apakah kita tahu bahwa nun jauh di sana, di tengah-tengah pulau Sumatera, juga ada surga yang menghanyutkan jiwa ? Surga yang terlupakan karena jarang dipromosi media, surga yang jarang dijamah kaki - kaki wisatawan karena minimnya iklan dan pengetahuan.
Sumatera Barat adalah propinsi dengan pesona alamnya yang menakjubkan. Jika hanya punya waktu sepekan, tak akan cukup bagi kita untuk merasakan semua keindahan alam minangkabau ciptaan Tuhan Yang Kuasa.
Bicara mengenai potensi pariwisata Sumatera Barat adalah bicara yang tidak pernah ada habisnya. Mulai dari daya tarik keindahaan Danau Maninjau, Singkarak sampai Danau Di Atas dan Danau Dibawah. Kedua danau terakhir ini dikenal dengan sebutan Danau Kembar. Kedua danau tersebut terletak di Desa Pasar Simpang, Kecamatan Lembayang Jaya, Kabupaten Solok, berjarak kurang lebih 47 km dari Kota Solok dan 56 km dari Kota Padang. Keunikan dari danau kembar tersebut adalah untuk menuju Danau Di atas, kita harus melalui jalan yang menurun sedangkan untuk menuju Danau Dibawah, kita harus melalui jalan yang mendaki. Di sekitar danau ditanam pohon buah markisa dan aneka pohon buah serta sayur mayur. Semua ini menakjubkan mata siapa pun yang memandangnya.
Alam Minangkabau yang terletak di sepanjang ‘punggung’ pegunungan bukit barisan itu menghadirkan pula indahnya pemandangan pegunungan yang mengelilingi propinsi Sumatera Barat. Kita dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam di sekitar kota Bukittinggi yang dihiasi Gunung Merapi, Gunung Singgalang atau Gunung Sago atau kota pemandangan kota Padang yang disaksikan dari pucak bukit yang dikenal nama Sitinjau Laut. Amazing !
Dua km sebelum memasuki kota Payakumbuh dari arah Bukitinggi kita akan sampai ke sebuah gua alam dengan stalagnit dan stalagmit pada langit-langit gua yang sangat menarik. Di dalam gua ini kita akan mendengar suara kelelawar yang berterbangan di sekitar kita dan merasakannya tanpa dapat melihatnya. Di luar gua ini kita akan menikmati taman dengan pohon-pohon yang rindang menambah kesejukan dan keindahan alam.
Masih di sekitar luar kota Payakumbuh, kita akan menemukan Lembah Harau yang merupakan cagar alam dengan bukit kapur yang curam dengan ketinggian 100 sampai 150 m yang terletak 14 km dari Payakumbuh. Disini juga ditemui lima buah air terjun yang selalu mencurahkan airnya yang jernih. Di tempat ini juga tersedia fasilitas untuk berkemah bagi wisata remaja dan kegiatan mengelilingi cagar alam melalui jalan setapak. Cagar alam ini menjadi taman margasatwa yang pertama di luar Pulau Jawa.
Bosan dengan suasana pegunungan, kita bisa berwisata pantai dan laut di Pulau Sikuai yang merupakan salah satu pulau yang terletak di sisi barat Pulau Sumatera hanya terletak sekitar setengah mil laut dari kota Padang. Di pulau yang sangat eksotis ini kita dapat menginap di hotel resort yang dilengkapi fasilitas hotel berbintang dua dan tiga. Selain menikmati keindahan pantai dan wisata bahari, trekking mengitari pulau atau menjelajahi hutan alam sampai panjat tebing juga dapat dilakukan oleh pengunjung yang hobi petualangan alam.
Banyak lagi daerah lokasi tujuan wisata di seantero Sumatera Barat. Ada Kawasan Bukit Langkisau, Jembatan Akar yang sangat unik karena terbuat dari akar dua pohon beringin yang saling bertautan. Bagi wisatawan yang hobi berselancar (surfing) dapat menjajal kemampuannya dengan ombak Mentawai, Siberut dan Sipora. Luar biasa !
Bukan hanya keindahan alam Sumatera Barat yang menjadikannya pantas kita juluki “Surga di Tenga Sumatera”, kekayaan sumber daya alam minangkabau juga menjadi legitimasi predikat surga itu. Baru-baru ini ditemukan cadangan minyak bumi yang cukup besar di cekungan atau Blok Singkarak dan cadangan emas yang sangat besar di Solok Selatan. Tidak cukup hanya di situ, BPPT pun kemudian menemukan cadangan minyak yang diperkirakan sangat besar di sekitar pulau Mentawai, setelah sebelumnya ditemukan cadangan minyak bumi yang sangat besar yakni sekitar 320 milyar barrel di perairan timur Pulau Semeulue, Nangroe Aceh Darussalam.
Sumatera Barat adalah propinsi dengan kekayaan batu kapur terbesar di Indonesia. Penemuan demi penemuan cadangan kekayaan alam mineral terus terjadi, yang seharusnya mampu mengantarkan penduduk Sumatera Barat benar-benar menjadi penghuni surga yang sesungguhnya.
Wiranto, Dari Jenderal Ke Begawan
KETIKA itu saya baru saja kembali dari Korea Selatan, saat pesawat landing dan hp diaktifkan, seketika masuk beberapa SMS, salah satunya dari seorang teman yang isinya meminta saya agar menghubungi seorang petinggi satu partai politik. Saya lalu hubungi beliau dan diminta segera datang ke sebuah hotel bintang lima di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada pukul 20.00 WIB.
Kurang sepuluh menit dari pukul delapan, saya pun tiba di hotel yang dimaksud dan langsung bertemu dengan Ketua Umum Partai Hanura, Bapak Wiranto. Pertemuan semula dijadwalkan selama sepuluh menit, kemudian malah molor menjadi sekitar satu jam setengah. Kami berdiskusi banyak hal, terutama menyangkut konstelasi politik kini serta masa depan bangsa dan negara Indonesia. Topik diskusi pun bermacam-macam, mulai dari kondisi negara yang memprihatinkan terutama seiring dengan lemahnya penegakan hukum dan maraknya korupsi di mana-mana sampai pada cengkraman kekuasaan mafia dan konspirasi global di Indonesia
Saat itu peristiwa penembakan beberapa tahanan titipan Polda di LP Cebongan, Sleman oleh sebuah pasukan yang tak dikenal baru saja terjadi. Suhu politik memanas karena tidak ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas pembantaian hingga tewas beberapa orang tahanan titipan Polda di LP Cebongan itu. Di tengah-tengah ketidakpastian penanganan kasus tersebut, secara spontan Pak Wiranto mengeluarkan statement yang sangat tepat.
Dalam kesempatan sebagai pembicara ‘Kuliah Umum Kandidat Presiden 2014: Landscape Politik Indonesia” yang diselenggarakan Soegeng Sarjadi Syndicate di Garden Terrace, Four Season Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (27/3/2013), Wiranto menyampaikan bahwa jika kasus penembakan di LP Cebongan diserahkan padanya, dia mampu menyelesaikan kasus tersebut hingga tuntas hanya dalam waktu sehari !
“Dalam hati saya, serahkan kepada saya, satu hari saya bongkar. Ini bukan masalah bisa atau tidak bisa tapi apakah mau atau tidak mau. Yang mudah dipersulit di negeri ini untuk mendapat keuntungan,” ujar Wiranto dengan tegas, yang langsung saja disambut dengan applaus meriah dari seluruh peserta yang hadir dalam acara kuliah umum tersebut. Pernyataan tegas Wiranto itu tak lama kemudian disiarkan oleh berbagai media. Disadari atau tidak, pernyataan tegas Wiranto itulah menjadi pendorong utama sikap Kasad Jenderal TNI AD Pramono Edhie Wibowo untuk mengakui secara ksatria dan jujur bahwa sejumlah oknum Kopassus lah yang menjadi pelaku penembakan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta itu. Selanjutnya, proses hukum pun berjalan mulus sebagai mana mestinya.
Tak terasa sudah hampir satu jam kami larut dalam diskusi serius tapi santai itu. Sekonyong-konyong saja saya spontan bertanya kepada Wiranto mengenai rencana pencapresannya. Jawaban yang saya terima sungguh tidak terduga. “Jika ditanya keinginan saya untuk maju lagi sebagai calon presiden, sejujurnya saya katakan bahwa keinginan tersebut tidak lagi dominan. Saya lebih banyak berkeinginan membesarkan Partai Hanura dan menularkan standar moralitas yang tinggi kepada politisi - politisi lain di luar Partai Hanura” kata Wiranto yang partainya ketika itu baru saja dinobatkan sebagai partai terbersih.
Wiranto lalu melanjutkan penjelasannya mengenai sikapnya terkait pemilu dan pilpres 2014 mendatang yang diharapkannya tidak lagi terjadi kecurangan seperti pemilu/pilpres sebelumnya yang sangat merugikan semua parpol kecuali Partai Demokrat. “Untuk pemilu/pilpres 2014 nanti saya, Insya Allah memastikan tidak akan bisa terjadi kecurangan lagi. Terlalu besar risikonya bagi republik ini” tegas Wiranto.
Mengenai siapa yang tepat jadi presiden Indonesia mendatang, Wiranto menyerahkan sepenuhnya pada kehendak rakyat pemilih. “Meski demikian, jika ternyata terpilih figur presiden yang dapat membahayakan keutuhan bangsa dan negara, saya pasti terpanggil untuk bertindak demi menyelamatkan rakyat dan NKRI”
Tidak terasa pembicaran kami sudah berlangsung sekitar satu setengah jam. Saya merasa terhormat diberi kesempatan berdiskusi bersama Wiranto yang terkenal dengan ketegasan, loyalitas, kematangan pikiran dan tindakannya. Wiranto juga seorang tokoh yang anti KKN. Sejak menjadi perwira tinggi TNI, Pangkostrad, Kasad, Panglima TNI, Menhankam sampai dengan Menko Polhukam, tidak ada setitik pun noda KKN mengotori karirnya yang cemerlang. Di Partai Hanura sendiri, tidak ada satu pun keluarga atau kerabatnya yang jadi pengurus partai. Wiranto mengajarkan keteladanan anti KKN, satu kata dengan perbuatan. Konsisten dan konsekwen.
Ketika publik ramai membahas deklarasi pencapresan Wiranto dan Hary Tanoe sebagai pasangan cawapresnya, berbagai analisa muncul ke publik. Silahkan saja kata beliau. Namun, yang pasti deklarasi capres dan cawapres Partai Hanura itu mencatat sejarah baru dan tradisi demokrasi Indonesia yang lebih matang.
Pertama, itu adalah deklarasi pasangan capres/cawapres pertama di Republik Indonesia yang diumumkan jauh-jauh hari sebelum pemilu dilaksanakan. Menunjukan kepercayaan diri dan tekad yang kuat dan bulat dari sebuah partai politik sehingga berani untuk mengusung kadernya sendiri.
Kedua, penetapan Hary Tanoe sebagai cawapres merupakan terobosan sejarah dan tradisi politik bangsa ini dimana dalam tataran realitas sudah menerima dan mengakui WNI keturunan tionghoa sebagai bagian integral yang setara dan sederajat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketiga, deklarasi itu menunjukan sikap tegas dan keberanian mengambil keputusan yang cepat dan tepat dari seorang Wiranto, sekaligus inisiatif yang briliant sebagai pionir membangun dan mengembangkan kehidupan demokrasi yang sehat di Indonesia.
Berdiskusi dengan Pak Wiranto sungguh mengasyikan, menghanyutkan seperti kita berdialog dengan hati nurani dan pikiran kita sendiri. Tutur katanya lembut namun tegas. Mudah dimengerti karena lugas dan bernas. Tidak bersayap dan bermakna ganda. Tidak ada hidden agenda. Jujur dan apa adanya. Kata demi kata mengalir lembut namun penuh makna. Tidak terkesan sedikit pun sosok seorang politisi. Di mata saya, beliau lebih seperti seorang resi atau begawan. Sekian.-
Kurang sepuluh menit dari pukul delapan, saya pun tiba di hotel yang dimaksud dan langsung bertemu dengan Ketua Umum Partai Hanura, Bapak Wiranto. Pertemuan semula dijadwalkan selama sepuluh menit, kemudian malah molor menjadi sekitar satu jam setengah. Kami berdiskusi banyak hal, terutama menyangkut konstelasi politik kini serta masa depan bangsa dan negara Indonesia. Topik diskusi pun bermacam-macam, mulai dari kondisi negara yang memprihatinkan terutama seiring dengan lemahnya penegakan hukum dan maraknya korupsi di mana-mana sampai pada cengkraman kekuasaan mafia dan konspirasi global di Indonesia
Saat itu peristiwa penembakan beberapa tahanan titipan Polda di LP Cebongan, Sleman oleh sebuah pasukan yang tak dikenal baru saja terjadi. Suhu politik memanas karena tidak ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas pembantaian hingga tewas beberapa orang tahanan titipan Polda di LP Cebongan itu. Di tengah-tengah ketidakpastian penanganan kasus tersebut, secara spontan Pak Wiranto mengeluarkan statement yang sangat tepat.
Dalam kesempatan sebagai pembicara ‘Kuliah Umum Kandidat Presiden 2014: Landscape Politik Indonesia” yang diselenggarakan Soegeng Sarjadi Syndicate di Garden Terrace, Four Season Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (27/3/2013), Wiranto menyampaikan bahwa jika kasus penembakan di LP Cebongan diserahkan padanya, dia mampu menyelesaikan kasus tersebut hingga tuntas hanya dalam waktu sehari !
“Dalam hati saya, serahkan kepada saya, satu hari saya bongkar. Ini bukan masalah bisa atau tidak bisa tapi apakah mau atau tidak mau. Yang mudah dipersulit di negeri ini untuk mendapat keuntungan,” ujar Wiranto dengan tegas, yang langsung saja disambut dengan applaus meriah dari seluruh peserta yang hadir dalam acara kuliah umum tersebut. Pernyataan tegas Wiranto itu tak lama kemudian disiarkan oleh berbagai media. Disadari atau tidak, pernyataan tegas Wiranto itulah menjadi pendorong utama sikap Kasad Jenderal TNI AD Pramono Edhie Wibowo untuk mengakui secara ksatria dan jujur bahwa sejumlah oknum Kopassus lah yang menjadi pelaku penembakan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta itu. Selanjutnya, proses hukum pun berjalan mulus sebagai mana mestinya.
Tak terasa sudah hampir satu jam kami larut dalam diskusi serius tapi santai itu. Sekonyong-konyong saja saya spontan bertanya kepada Wiranto mengenai rencana pencapresannya. Jawaban yang saya terima sungguh tidak terduga. “Jika ditanya keinginan saya untuk maju lagi sebagai calon presiden, sejujurnya saya katakan bahwa keinginan tersebut tidak lagi dominan. Saya lebih banyak berkeinginan membesarkan Partai Hanura dan menularkan standar moralitas yang tinggi kepada politisi - politisi lain di luar Partai Hanura” kata Wiranto yang partainya ketika itu baru saja dinobatkan sebagai partai terbersih.
Wiranto lalu melanjutkan penjelasannya mengenai sikapnya terkait pemilu dan pilpres 2014 mendatang yang diharapkannya tidak lagi terjadi kecurangan seperti pemilu/pilpres sebelumnya yang sangat merugikan semua parpol kecuali Partai Demokrat. “Untuk pemilu/pilpres 2014 nanti saya, Insya Allah memastikan tidak akan bisa terjadi kecurangan lagi. Terlalu besar risikonya bagi republik ini” tegas Wiranto.
Mengenai siapa yang tepat jadi presiden Indonesia mendatang, Wiranto menyerahkan sepenuhnya pada kehendak rakyat pemilih. “Meski demikian, jika ternyata terpilih figur presiden yang dapat membahayakan keutuhan bangsa dan negara, saya pasti terpanggil untuk bertindak demi menyelamatkan rakyat dan NKRI”
Tidak terasa pembicaran kami sudah berlangsung sekitar satu setengah jam. Saya merasa terhormat diberi kesempatan berdiskusi bersama Wiranto yang terkenal dengan ketegasan, loyalitas, kematangan pikiran dan tindakannya. Wiranto juga seorang tokoh yang anti KKN. Sejak menjadi perwira tinggi TNI, Pangkostrad, Kasad, Panglima TNI, Menhankam sampai dengan Menko Polhukam, tidak ada setitik pun noda KKN mengotori karirnya yang cemerlang. Di Partai Hanura sendiri, tidak ada satu pun keluarga atau kerabatnya yang jadi pengurus partai. Wiranto mengajarkan keteladanan anti KKN, satu kata dengan perbuatan. Konsisten dan konsekwen.
Ketika publik ramai membahas deklarasi pencapresan Wiranto dan Hary Tanoe sebagai pasangan cawapresnya, berbagai analisa muncul ke publik. Silahkan saja kata beliau. Namun, yang pasti deklarasi capres dan cawapres Partai Hanura itu mencatat sejarah baru dan tradisi demokrasi Indonesia yang lebih matang.
Pertama, itu adalah deklarasi pasangan capres/cawapres pertama di Republik Indonesia yang diumumkan jauh-jauh hari sebelum pemilu dilaksanakan. Menunjukan kepercayaan diri dan tekad yang kuat dan bulat dari sebuah partai politik sehingga berani untuk mengusung kadernya sendiri.
Kedua, penetapan Hary Tanoe sebagai cawapres merupakan terobosan sejarah dan tradisi politik bangsa ini dimana dalam tataran realitas sudah menerima dan mengakui WNI keturunan tionghoa sebagai bagian integral yang setara dan sederajat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketiga, deklarasi itu menunjukan sikap tegas dan keberanian mengambil keputusan yang cepat dan tepat dari seorang Wiranto, sekaligus inisiatif yang briliant sebagai pionir membangun dan mengembangkan kehidupan demokrasi yang sehat di Indonesia.
Berdiskusi dengan Pak Wiranto sungguh mengasyikan, menghanyutkan seperti kita berdialog dengan hati nurani dan pikiran kita sendiri. Tutur katanya lembut namun tegas. Mudah dimengerti karena lugas dan bernas. Tidak bersayap dan bermakna ganda. Tidak ada hidden agenda. Jujur dan apa adanya. Kata demi kata mengalir lembut namun penuh makna. Tidak terkesan sedikit pun sosok seorang politisi. Di mata saya, beliau lebih seperti seorang resi atau begawan. Sekian.-
Kenapa Saya Akhirnya Pilih Hanura ?
Tak pernah terlintas sedikit pun dibenak saya suatu saat akan menjadi calon legislatif DPR RI dari Partai Hanura. Membayangkannya pun tidak pernah. Menjadi caleg saja sudah merupakan “penyimpangan” jalan hidup yang saya tekuni selama ini. Apalagi menjadi caleg dari Partai Hanura melalui Dapil 2 Sumatera Barat.
Secara historis cultural keluarga kami lebih dekat dengan PPP, PAN atau PKS. Almarhum kakek adalah aktivis Masyumi di tahun 1950 - 1970. Alhmarhumah Ibunda saya adalah guru di Sekolah Muhammadiyah dan aktif di Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Kedekatan keluarga besar saya dengan Muhammadiyah sudah sejak puluhan tahun, bahkan sepupu kakek saya, Buya Hamka pernah menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Oleh karena itu, ketika saya bersedia dan mantapkan hati mencalonkan diri sebagai caleg DPR dari Partai Hanura, berbagai pertanyaan pun datang. Alhamdulillah semuanya dapat menerima dan malah mendukung sepenuhnya setelah saya memberikan rasionalitasnya.
Meski saya berlatar belakang aktivis, namun selama dua puluh tahun terakhir saya berkecimpung sebagai profesional. Sempat berkarir di mana- mana termasuk menjadi direktur di salah satu perusahaan Bosowa Grup, pernah jadi Direktur Utama di perusahaan Grup Fajar, mampir sebagai Dirut di PT. Berdikari Insurance (BUMN Grup), jadi konsultan hukum dan bisnis, dan seterusnya. Sebab itulah, meski dunia politik sudah lama ditinggalkan, namun minat dan perhatian saya masih cukup besar pada dunia politik. Motifasi saya semakin kuat ketika menyaksikan gejala-gejala kehancuran yang terjadi setiap saat dan dimana-mana di seluruh Indonesia terutama yang menyangkut korupsi, praktek mafioso di hampir semua sektor kehidupan bangsa, hancurnya penegakan hukum, bobroknya pelayanan birokrasi, rusaknya moral sebagaian besar politisi, aparat penegak hukum dan pejabat negeri ini.
Semula perjuangan melawan kemungkaran dan gejala kehancuran negara ini, kami (saya dan teman-teman) lakukan melalui strategi yang dahulu pernah kami lakukan. Kami berupaya memperkuat kehidupan masyarakat madani dengan membuat jaringan komunitas khusus yang peduli dengan nasib bangsa ini dan mengajak mereka semua di seluruh Indonesia untuk membantu penegakan hukum berkoordinasi dengan Polri, Kejaksaan, KPK dan seterusnya. Kami, melalui, berbagai program juga berupaya meningkatkan kewaspadaan nasional terutama terhadap ancaman konspirasi global yang bermaksud menghancurkan NKRI dengan memperlemah ketahanan masional melalui content /berita/tontonan yang disiarkan media massa (TV, koran, majalah dsb).
Namun sekitar tiga bulan sebelum masa pendaftaran caleg di KPU, sejumlah teman dan senior saya menyarankan agar saya terjun langsung ke dunia politik praktis dengan menjadi kader atau calon anggota DPR. Saat itu saya menolak karena saya nilai tidak ada partai yang amanah, bersih, jelas misi dan visinya serta berintegritas kepemimpinan Ketua Umum partainya. Penilaian saya tersebut berdasarkan realitas kasat mata. Lihatlah parpol - parpol yang ada, tataplah mata para ketua umum partainya. Apa yang ditemukan disana? Lebih banyak kemunafikan dan dusta.
Fakta dan realitas sepertilah yang membuat saya tidak mau terlibat dalam partai politik, sampai pada suatu ketika, sekitar tiga bulan yang lalu, saya terlibat dalam sebuah diakusi dengan seorang senior yang saya kagumi integritas, keberanian dan konsistensinya selama ini. Dari beliau saya mendapatkan informasi dan pemahaman bahwa masih terdapat partai yang bersih dan amanah, yakni Partai Hanura. Tidak hanya sekedar mendapatkan predikat sebagai partai terbersih, tetapi juga kenyataannya membuktikan tidak seorang pun dari sekitar seribuan anggota DPR/D asal Partai Hanura di seluruh Indonesia yang terlibat perilaku korupsi. Apalagi yang menjadi tersangka/terpidana korupsi. Alhamdulillah..subhanallah wa syukurillah.
Usai berdialog dan mendapatkan pemahaman dari senior tersebut, belum juga membulatkan tekad saya untuk menjadi kader partai atau caleg DPR. Niat dan tekad tersebut barulah membulat ketika usai bertemu dan berdiskusi panjang dengan Bapak Wiranto Ketua Umum Partai Hanura. Diskusi yang mengubah jalan hidup saya.
Sosok sesungguhnya seorang Jenderal Purn. Wiranto jauh dari pengetahuan saya apalagi publik, rakyat Indonesia. Meski dikenal sebagai tentara sejati, tegas dan tangguh, Wiranto mampu menjelmakan dirinya sebagai seorang negarawan sipil. Sikapnya sangat terbuka, egaliter, tidak ada kesan arogan sedikit pun, sangat cerdas, sangat percaya diri tetapi tidak ambius dan tidak mengintimidasi. Karakter dan kepemimpinan yang sebenarnya, menurut penilaian saya, sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara Indonesia ini.
Berdiskusi dan berdialog dengan Bapak Wiranto itu sangat menyenangkan. Aura positifnya terpancar kuat dan memberikan energi positif. Pengalaman hidupnya sangat beraneka warna dan kaya dengan nilai-nilai kearifan. Wawasannya sangat luas, misi dan visinya jelas. Lolayitas dan dedikasi hidupnya ditujukan pada kepentingan bangsa dan negara. Tidak terlihat sedikitpun perilaku mengutamakan kepentingan pribadi atau agenda politik dalam setiap langkah, tindakan dan keputusannya. Di mata saya, Pak Wiranto adalah teladan buat kita semua. Sayangnya, tokoh seheba beliau tidak disosialisasikan oleh berbagai media massa yang ada.
Pertemuan dengan seorang senior, fakta bahwa masih ada partai politik yang bersih dan amanah, pemahaman saya terhadap sosok Wiranto, memberikan dorongan yang besar bagi saya untuk kembali terjun ke dunia politik praktis, termasuk mencalonkan diri sebagai Caleg DPR RI Dapil 2 Sumatera Barat dari Partai Hanura. Bismillahirrahmannirahiim…. Terima kasih.
Secara historis cultural keluarga kami lebih dekat dengan PPP, PAN atau PKS. Almarhum kakek adalah aktivis Masyumi di tahun 1950 - 1970. Alhmarhumah Ibunda saya adalah guru di Sekolah Muhammadiyah dan aktif di Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Kedekatan keluarga besar saya dengan Muhammadiyah sudah sejak puluhan tahun, bahkan sepupu kakek saya, Buya Hamka pernah menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Oleh karena itu, ketika saya bersedia dan mantapkan hati mencalonkan diri sebagai caleg DPR dari Partai Hanura, berbagai pertanyaan pun datang. Alhamdulillah semuanya dapat menerima dan malah mendukung sepenuhnya setelah saya memberikan rasionalitasnya.
Meski saya berlatar belakang aktivis, namun selama dua puluh tahun terakhir saya berkecimpung sebagai profesional. Sempat berkarir di mana- mana termasuk menjadi direktur di salah satu perusahaan Bosowa Grup, pernah jadi Direktur Utama di perusahaan Grup Fajar, mampir sebagai Dirut di PT. Berdikari Insurance (BUMN Grup), jadi konsultan hukum dan bisnis, dan seterusnya. Sebab itulah, meski dunia politik sudah lama ditinggalkan, namun minat dan perhatian saya masih cukup besar pada dunia politik. Motifasi saya semakin kuat ketika menyaksikan gejala-gejala kehancuran yang terjadi setiap saat dan dimana-mana di seluruh Indonesia terutama yang menyangkut korupsi, praktek mafioso di hampir semua sektor kehidupan bangsa, hancurnya penegakan hukum, bobroknya pelayanan birokrasi, rusaknya moral sebagaian besar politisi, aparat penegak hukum dan pejabat negeri ini.
Semula perjuangan melawan kemungkaran dan gejala kehancuran negara ini, kami (saya dan teman-teman) lakukan melalui strategi yang dahulu pernah kami lakukan. Kami berupaya memperkuat kehidupan masyarakat madani dengan membuat jaringan komunitas khusus yang peduli dengan nasib bangsa ini dan mengajak mereka semua di seluruh Indonesia untuk membantu penegakan hukum berkoordinasi dengan Polri, Kejaksaan, KPK dan seterusnya. Kami, melalui, berbagai program juga berupaya meningkatkan kewaspadaan nasional terutama terhadap ancaman konspirasi global yang bermaksud menghancurkan NKRI dengan memperlemah ketahanan masional melalui content /berita/tontonan yang disiarkan media massa (TV, koran, majalah dsb).
Namun sekitar tiga bulan sebelum masa pendaftaran caleg di KPU, sejumlah teman dan senior saya menyarankan agar saya terjun langsung ke dunia politik praktis dengan menjadi kader atau calon anggota DPR. Saat itu saya menolak karena saya nilai tidak ada partai yang amanah, bersih, jelas misi dan visinya serta berintegritas kepemimpinan Ketua Umum partainya. Penilaian saya tersebut berdasarkan realitas kasat mata. Lihatlah parpol - parpol yang ada, tataplah mata para ketua umum partainya. Apa yang ditemukan disana? Lebih banyak kemunafikan dan dusta.
Fakta dan realitas sepertilah yang membuat saya tidak mau terlibat dalam partai politik, sampai pada suatu ketika, sekitar tiga bulan yang lalu, saya terlibat dalam sebuah diakusi dengan seorang senior yang saya kagumi integritas, keberanian dan konsistensinya selama ini. Dari beliau saya mendapatkan informasi dan pemahaman bahwa masih terdapat partai yang bersih dan amanah, yakni Partai Hanura. Tidak hanya sekedar mendapatkan predikat sebagai partai terbersih, tetapi juga kenyataannya membuktikan tidak seorang pun dari sekitar seribuan anggota DPR/D asal Partai Hanura di seluruh Indonesia yang terlibat perilaku korupsi. Apalagi yang menjadi tersangka/terpidana korupsi. Alhamdulillah..subhanallah wa syukurillah.
Usai berdialog dan mendapatkan pemahaman dari senior tersebut, belum juga membulatkan tekad saya untuk menjadi kader partai atau caleg DPR. Niat dan tekad tersebut barulah membulat ketika usai bertemu dan berdiskusi panjang dengan Bapak Wiranto Ketua Umum Partai Hanura. Diskusi yang mengubah jalan hidup saya.
Sosok sesungguhnya seorang Jenderal Purn. Wiranto jauh dari pengetahuan saya apalagi publik, rakyat Indonesia. Meski dikenal sebagai tentara sejati, tegas dan tangguh, Wiranto mampu menjelmakan dirinya sebagai seorang negarawan sipil. Sikapnya sangat terbuka, egaliter, tidak ada kesan arogan sedikit pun, sangat cerdas, sangat percaya diri tetapi tidak ambius dan tidak mengintimidasi. Karakter dan kepemimpinan yang sebenarnya, menurut penilaian saya, sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara Indonesia ini.
Berdiskusi dan berdialog dengan Bapak Wiranto itu sangat menyenangkan. Aura positifnya terpancar kuat dan memberikan energi positif. Pengalaman hidupnya sangat beraneka warna dan kaya dengan nilai-nilai kearifan. Wawasannya sangat luas, misi dan visinya jelas. Lolayitas dan dedikasi hidupnya ditujukan pada kepentingan bangsa dan negara. Tidak terlihat sedikitpun perilaku mengutamakan kepentingan pribadi atau agenda politik dalam setiap langkah, tindakan dan keputusannya. Di mata saya, Pak Wiranto adalah teladan buat kita semua. Sayangnya, tokoh seheba beliau tidak disosialisasikan oleh berbagai media massa yang ada.
Pertemuan dengan seorang senior, fakta bahwa masih ada partai politik yang bersih dan amanah, pemahaman saya terhadap sosok Wiranto, memberikan dorongan yang besar bagi saya untuk kembali terjun ke dunia politik praktis, termasuk mencalonkan diri sebagai Caleg DPR RI Dapil 2 Sumatera Barat dari Partai Hanura. Bismillahirrahmannirahiim…. Terima kasih.
Air Susu Itu Dibalas dengan Air Tuba
SUATU waktu sekitar lima tahun lalu seorang teman berkebangsaan Perancis, Mr. Gerard pernah mengeluh kepada saya karena urusannya di sebuah instansi pemerintah tidak kunjung tuntas. Dia sudah bolak balik ke kementerian tersebut hanya untuk mengambil sehelai surat pernyataan dari kementerian itu yang menyatakan bahwa bantuan bencana alam yang disumbangkan Lions Club Perancis benar telah diterima dan disalurkan kepada yang berhak menerimanya.
Mr. Gerard menyampaikan keprihatinannya. Mungkin lebih tepat, kekesalannya. Kenapa untuk menerbitkan sebuah surat saja, begitu lama waktu yang dibutuhkan tanpa ada alasan yang jelas. Mr. Gerard yang rencana semula hanya bermaksud tinggal di Indonesia selama 1 - 2 bulan, terpaksa menghabiskan waktunya lebih dari enam bulan hanya gara-gara persoalan demi persoalan timbul terkait dengan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan Lions Club melalui pemerintahnya ke Indonesia.
Masalah pertama timbul ketika barang - barang bantuan dari Perancis yang berupa puluhan mesin pompa air ukuran kecil, sedang dan besar itu tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Mesin pompa air bantuan kemanusiaan untuk rakyat Aceh korban bencana tsunami itu, ditahan oleh pihak Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Tidak bisa dikeluarkan. Tidak boleh. Apa alasannya ? Menurut pejabat Bea Cukai harus ada surat izin dari berbagai instansi yang berwenang. Mr. Gerard pun segera hubungi kedutaan besar Perancis dan pontang panting mengurus segala tetek bengek surat yang dibutuhkan itu. Setelah hampir satu bulan mengurus surat - surat dengan datangi satu per satu instansi pemerintah, semua surat yang dipersyaratkan pun terbit. Mr. Gerard menarik nafas lega. Sudah terbayang wajah istrinya yang cantik itu menunggu kepulangannya ke Paris, Perancis.
Surat - surat selesai, puluhan mesin pompa air itu pun dikirimkan ke gudang yang telah ditunjuk pemerintah. Mr. Gerard hanya tinggal menunggu berita acara penyerahan (BAP) untuk barang bantuan bencana tersebut. Seminggu tidak ada kabar. Dua minggu juga belum ada kepastian. Sebulan berlalu, Mr. Gerard habis kesabaran. Dia datangi kantor kementerian tersebut menanyakan kapan BAP bantuan bencana bisa diterima. Tidak ada jawaban. Semua pejabat di kementerian itu angkat tangan geleng - geleng kepala, tidak tahu jawabnya. Mr. Gerard mulai frustasi, dia hubungi pejabat kedutaan Perancis, jawaban yang diterima malah bikin dia makin pusing. “Sudah biasa di Indonesia terjadi masalah seperti ini. Pemerintahan dan birokrasinya tidak efisen. Korup. Coba saja Anda tawarkan sejumlah uang kepada pejabat kementerian itu, mudah-mudahan ada solusinya” saran pejabat kedutaan. Kali ini Mr. Gerard yang geleng-geleng kepala dan tarik nafas dalam-dalam. “Semoga penyakit jantungku tidak kumat menghadapi neraka birokrasi Indonesia” batinnya.
Melalui temannya yang sudah lama tinggal di Jakarta, Mr. Gerard diperkenalkan sama saya. “Mohon bantuannya Pak” ujar teman Mr. Gerard yang berprofesi sebagai technical advisor di sebuah perusahaan multinasional. Saya pun dengan senang hati membantu Mr. Gerard yang malang ini. Bersama - sama kami mendatangi pejabat terkait di kementerian sumber masalah itu.
Dari mulut pejabat tinggi kementerian tersebutlah baru diketahui apa penyebab BAP bantuan bencana itu tidak dapat diterbitkan. Ternyata puluhan mesin pompa air yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Aceh di pedalaman pedesaan itu tidak pernah sampai di tempat. Mesin - mesin pompa senilai Rp. 17 milyar itu lenyap, hilang tak tahu kemana rimbanya. Dicolong setan - setan gentayangan berwujud manusia yang tega menilep mesin pompa untuk pengadaan air bersih rakyat Aceh korban tsunami.
Mendengar penjelasan itu, Mr. Gerard tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Matanya nanar, berair. Air matanya jatuh. Dia menangis. Benar, dia benar-benar menangis. ” Kenapa…kenapa ? Siapa yang luar biasa tega ? Mana pemerintah kalian ? Duh !” ujarnya setengah teriak sambil menahan tangis. Setelah suasana hatinya agak tenang, saya hampiri dia, ” Dengan kenyataan seperti ini, apa yang menjadi rencana Anda selanjutnya ?” Tanya saya. Mr. Gerard terdiam, dia belum mampu berfikir jernih dan mengucapkan kata-kata.
Setelah lama membisu, akhirnya Mr. Gerard berkata lirih, ” Saya harus lapor dulu ke Kantor Pusat Lions Club di Paris. Biar mereka yang memutuskan” ujarnya sambil memencet tombol handphone. Tak sampai semenit berselang, dia sudah terhubung dan bicara dengan rekannya di benua Eropa sana.
” Pihak Lions Club Perancis sangat menyesalkan kehilangan mesin - mesin pompa air yang sangat dibutuhkan rakyat Aceh. Saya kena tegur kenapa sembrono dan tidak mengambil tindakan untuk memastikan bantuan itu sampai ke korban bencana” kata Mr. Gerard sambil memandang saya dengan tatapan mata hampa. Saya terdiam dengan kepala agak tertunduk. Tidak tahu mesti bagaimana meski hati saya bergejolak campur aduk marah dan malu. Tiba-tiba dia melanjutkan lagi ucapannya, ” Saya tidak berani pulang ke Paris jika urusan ini belum beres. Saya malu pada Ketua Lions Club Perancis yang adalah juga seorang jenderal, Kepala Staf Angkatan Darat Perancis. Saya gagal jalankan tugas yang dberikannya,” jelas Mr. Gerard kepada saya. Mendengar ucapan tersebut saya kian gundah. Malu tak tertahankan, amarah pun memuncak ke ubun-ubun. Saya hampiri pejabat tinggi kementerian yang masih menatap kami berdua tapi tidak punya inisiatif untuk carikan solusinya.
“Bagaimana saran Bapak ? Apakah ada cara terbaik dan tercepat untuk menyelesaikan masalah ini?” tanya saya. Dia menjawab sambil bergumam, nyaris tak terdengar. “Ya bagaimana maunya Pak ? Kami juga tidak berdaya karena untuk pengiriman barang-barang bantuan bencana ke Aceh, kami tidak punya kewenangan dan tanggungjawab. Ada instansi lain yang melakukannya. Kehilangan seperti ini, terlambat atau salah kirim bantuan pun kami tidak mengerti apa penyebab dan siapa pelakunya”.
Jawaban pejabat itu bikin perut saya mulas. Kelihatannya tidak ada harapan lagi paket mesin pompa bantuan Perancis itu bakal bisa ditemukan. Mungkin sudah berpindah tangan ke pemilik toko di kawasan Glodok, Jakarta. Sudah dijual oleh maling hina dina yang bikin malu bangsa Indonesia dan menambah susah rakyat korban bencana. Akhirnya, saya minta bantuan kepada pejabat tersebut untuk menerbitkan surat pernyataan hilang dari kementerian. Mr. Gerard dengan alasan yang kuat, mohon surat itu dapat ditandatangani langsung oleh Menteri. Si Pejabat itu kelihatan ragu, dia tidak yakin Menteri bersedia tanda tangan. Saya pun langsung telpon senior saya yang kebetulan tangan kanan Pak Menteri untuk minta kesediaaannya menandatangani surat dimaksud.
Dua hari kemudian, kami pun datang lagi ke sana. Surat pernyataan mengenai kehilangan barang bantuan dari Pak Menteri sudah ada, disertai dengan permohonan maaf resmi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dari Pemerintah Republik Indonesia. Hanya itulah yang dapat sedikit mengurangi kegalauan Mr. Gerard, teman saya utusan resmi pemerintah Perancis yang mengawal pengiriminan bantuan kemanusian untuk Indonesia.
“Sungguh menyedihkan sikap mental dan moral bangsaku, orang lain yang dengan tulus membantu kesulitannya pun masih dizalimi. Sungguh mengenaskan. Sampai kapan bangsa ini sadar ? Apakah menunggu teguran Tuhan Yang Maha Tahu ?”
Mr. Gerard menyampaikan keprihatinannya. Mungkin lebih tepat, kekesalannya. Kenapa untuk menerbitkan sebuah surat saja, begitu lama waktu yang dibutuhkan tanpa ada alasan yang jelas. Mr. Gerard yang rencana semula hanya bermaksud tinggal di Indonesia selama 1 - 2 bulan, terpaksa menghabiskan waktunya lebih dari enam bulan hanya gara-gara persoalan demi persoalan timbul terkait dengan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan Lions Club melalui pemerintahnya ke Indonesia.
Masalah pertama timbul ketika barang - barang bantuan dari Perancis yang berupa puluhan mesin pompa air ukuran kecil, sedang dan besar itu tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Mesin pompa air bantuan kemanusiaan untuk rakyat Aceh korban bencana tsunami itu, ditahan oleh pihak Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Tidak bisa dikeluarkan. Tidak boleh. Apa alasannya ? Menurut pejabat Bea Cukai harus ada surat izin dari berbagai instansi yang berwenang. Mr. Gerard pun segera hubungi kedutaan besar Perancis dan pontang panting mengurus segala tetek bengek surat yang dibutuhkan itu. Setelah hampir satu bulan mengurus surat - surat dengan datangi satu per satu instansi pemerintah, semua surat yang dipersyaratkan pun terbit. Mr. Gerard menarik nafas lega. Sudah terbayang wajah istrinya yang cantik itu menunggu kepulangannya ke Paris, Perancis.
Surat - surat selesai, puluhan mesin pompa air itu pun dikirimkan ke gudang yang telah ditunjuk pemerintah. Mr. Gerard hanya tinggal menunggu berita acara penyerahan (BAP) untuk barang bantuan bencana tersebut. Seminggu tidak ada kabar. Dua minggu juga belum ada kepastian. Sebulan berlalu, Mr. Gerard habis kesabaran. Dia datangi kantor kementerian tersebut menanyakan kapan BAP bantuan bencana bisa diterima. Tidak ada jawaban. Semua pejabat di kementerian itu angkat tangan geleng - geleng kepala, tidak tahu jawabnya. Mr. Gerard mulai frustasi, dia hubungi pejabat kedutaan Perancis, jawaban yang diterima malah bikin dia makin pusing. “Sudah biasa di Indonesia terjadi masalah seperti ini. Pemerintahan dan birokrasinya tidak efisen. Korup. Coba saja Anda tawarkan sejumlah uang kepada pejabat kementerian itu, mudah-mudahan ada solusinya” saran pejabat kedutaan. Kali ini Mr. Gerard yang geleng-geleng kepala dan tarik nafas dalam-dalam. “Semoga penyakit jantungku tidak kumat menghadapi neraka birokrasi Indonesia” batinnya.
Melalui temannya yang sudah lama tinggal di Jakarta, Mr. Gerard diperkenalkan sama saya. “Mohon bantuannya Pak” ujar teman Mr. Gerard yang berprofesi sebagai technical advisor di sebuah perusahaan multinasional. Saya pun dengan senang hati membantu Mr. Gerard yang malang ini. Bersama - sama kami mendatangi pejabat terkait di kementerian sumber masalah itu.
Dari mulut pejabat tinggi kementerian tersebutlah baru diketahui apa penyebab BAP bantuan bencana itu tidak dapat diterbitkan. Ternyata puluhan mesin pompa air yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Aceh di pedalaman pedesaan itu tidak pernah sampai di tempat. Mesin - mesin pompa senilai Rp. 17 milyar itu lenyap, hilang tak tahu kemana rimbanya. Dicolong setan - setan gentayangan berwujud manusia yang tega menilep mesin pompa untuk pengadaan air bersih rakyat Aceh korban tsunami.
Mendengar penjelasan itu, Mr. Gerard tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Matanya nanar, berair. Air matanya jatuh. Dia menangis. Benar, dia benar-benar menangis. ” Kenapa…kenapa ? Siapa yang luar biasa tega ? Mana pemerintah kalian ? Duh !” ujarnya setengah teriak sambil menahan tangis. Setelah suasana hatinya agak tenang, saya hampiri dia, ” Dengan kenyataan seperti ini, apa yang menjadi rencana Anda selanjutnya ?” Tanya saya. Mr. Gerard terdiam, dia belum mampu berfikir jernih dan mengucapkan kata-kata.
Setelah lama membisu, akhirnya Mr. Gerard berkata lirih, ” Saya harus lapor dulu ke Kantor Pusat Lions Club di Paris. Biar mereka yang memutuskan” ujarnya sambil memencet tombol handphone. Tak sampai semenit berselang, dia sudah terhubung dan bicara dengan rekannya di benua Eropa sana.
” Pihak Lions Club Perancis sangat menyesalkan kehilangan mesin - mesin pompa air yang sangat dibutuhkan rakyat Aceh. Saya kena tegur kenapa sembrono dan tidak mengambil tindakan untuk memastikan bantuan itu sampai ke korban bencana” kata Mr. Gerard sambil memandang saya dengan tatapan mata hampa. Saya terdiam dengan kepala agak tertunduk. Tidak tahu mesti bagaimana meski hati saya bergejolak campur aduk marah dan malu. Tiba-tiba dia melanjutkan lagi ucapannya, ” Saya tidak berani pulang ke Paris jika urusan ini belum beres. Saya malu pada Ketua Lions Club Perancis yang adalah juga seorang jenderal, Kepala Staf Angkatan Darat Perancis. Saya gagal jalankan tugas yang dberikannya,” jelas Mr. Gerard kepada saya. Mendengar ucapan tersebut saya kian gundah. Malu tak tertahankan, amarah pun memuncak ke ubun-ubun. Saya hampiri pejabat tinggi kementerian yang masih menatap kami berdua tapi tidak punya inisiatif untuk carikan solusinya.
“Bagaimana saran Bapak ? Apakah ada cara terbaik dan tercepat untuk menyelesaikan masalah ini?” tanya saya. Dia menjawab sambil bergumam, nyaris tak terdengar. “Ya bagaimana maunya Pak ? Kami juga tidak berdaya karena untuk pengiriman barang-barang bantuan bencana ke Aceh, kami tidak punya kewenangan dan tanggungjawab. Ada instansi lain yang melakukannya. Kehilangan seperti ini, terlambat atau salah kirim bantuan pun kami tidak mengerti apa penyebab dan siapa pelakunya”.
Jawaban pejabat itu bikin perut saya mulas. Kelihatannya tidak ada harapan lagi paket mesin pompa bantuan Perancis itu bakal bisa ditemukan. Mungkin sudah berpindah tangan ke pemilik toko di kawasan Glodok, Jakarta. Sudah dijual oleh maling hina dina yang bikin malu bangsa Indonesia dan menambah susah rakyat korban bencana. Akhirnya, saya minta bantuan kepada pejabat tersebut untuk menerbitkan surat pernyataan hilang dari kementerian. Mr. Gerard dengan alasan yang kuat, mohon surat itu dapat ditandatangani langsung oleh Menteri. Si Pejabat itu kelihatan ragu, dia tidak yakin Menteri bersedia tanda tangan. Saya pun langsung telpon senior saya yang kebetulan tangan kanan Pak Menteri untuk minta kesediaaannya menandatangani surat dimaksud.
Dua hari kemudian, kami pun datang lagi ke sana. Surat pernyataan mengenai kehilangan barang bantuan dari Pak Menteri sudah ada, disertai dengan permohonan maaf resmi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dari Pemerintah Republik Indonesia. Hanya itulah yang dapat sedikit mengurangi kegalauan Mr. Gerard, teman saya utusan resmi pemerintah Perancis yang mengawal pengiriminan bantuan kemanusian untuk Indonesia.
“Sungguh menyedihkan sikap mental dan moral bangsaku, orang lain yang dengan tulus membantu kesulitannya pun masih dizalimi. Sungguh mengenaskan. Sampai kapan bangsa ini sadar ? Apakah menunggu teguran Tuhan Yang Maha Tahu ?”
Langganan:
Postingan (Atom)


